Logo Bloomberg Technoz

Mencermati lebih jauh time horizon yang lebih panjang, paparannya bertambah jelas: secara year–to–date (hingga 14 Agustus), LQ45 masih membukukan return yang amat terbatas, ketika IHSG sudah bullish mencapai 12% lebih sepanjang 2025. Dengan kata lain, underperformance Big Caps bukan semata–mata fenomena harian, melainkan sepanjang tahun 2025 sejauh ini. 

Lantas, sebab Big Caps belum bergerak ialah rotasi tahun 2025 banyak ‘digendong’ saham lapis dua/ tiga juga saham Konglomerat—mulai dari beberapa komoditas spesifik, infrastruktur, hingga teknologi tertentu—yang memberi bobot lebih besar. Sebaliknya, saham Blue Chips atau saham Big Banks cenderung terbatas, hingga terlihat lebih “kalem”. 

Sentimen valuasi dan ekspektasi juga jadi sebab. Banyak saham Big Caps—terutama perbankan besar dan saham telekomunikasi—sudah menjadi core holding investor institusi, sehingga rerating biasanya menuntut katalis yang sudah terlihat dan tergambar dengan jelas, seperti halnya penurunan suku bunga, perbaikan NIM dan pertumbuhan kredit, dukungan data ekonomi, ataupun sinyal–sinyal pasti lainnya.

Sebaliknya, Wall Street reli hingga cetak rekor usai terbitnya laporan terbaru Indeks Harga Konsumen (IHK) memicu keyakinan Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) hampir pasti akan melanjutkan pemangkasan suku bunga pada bulan depan.

Para pelaku pasar di Wall Street terus bertaruh The Fed akan segera dapat memangkas suku bunga. Terlebih, rilis inflasi sehari sebelumnya menunjukkan data yang terkendali. The Fed memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga acuan setidaknya seperempat poin pada September.

“Seiring pasar tenaga kerja terus melemah, kami memprediksi Bank Sentral AS akan melanjutkan pemangkasan suku bunga bulan depan, dengan pemangkasan 25 basis poin pada setiap rapat hingga Januari 2026, dengan total 100 basis poin," papar Ulrike Hoffmann–Burchardi dari UBS Global Wealth Management.

CGS International Sekuritas Indonesia memaparkan, Kembali menguatnya Bursa Wall Street dan berlanjutnya pembelian masif investor asing diprediksi menjadi sentimen positif untuk IHSG. “Resistance 7.985–8.080,” mengutip riset CGS International Sekuritas.

Senada, sentimen tensi dagang yang membaik, ruang pemangkasan suku bunga The Fed, serta tren positif inflow dana asing. Jadi sentimen pendorong penguatan IHSG. “IHSG berhasil tembus All Time High 7.911,” sebut riset Panin Sekuritas. Selanjutnya IHSG berpotensi lanjutkan penguatan menuju harmonic resistance 8.174–8.354, bertepatan dengan upper channel jangka panjang.

(fad)

No more pages