Perusahaan jasa IT India, bagaimanapun, sudah mendominasi ekonomi global, di mana perusahaan seperti TCS (TCS.NS) dan Infosys (INFY.NS) menyediakan solusi perangkat lunak bagi klien di seluruh dunia.
Kelompok Swadeshi Jagran Manch, yang terkait dengan Partai Bharatiya Janata (BJP) pimpinan Modi, menggelar demonstrasi kecil di seluruh India pada Minggu, menyerukan masyarakat untuk memboikot merek-merek AS.
"Orang-orang kini mulai melirik produk India. Butuh waktu untuk membuahkan hasil," ujar Ashwani Mahajan, salah satu koordinator kelompok tersebut, kepada Reuters. "Ini seruan demi nasionalisme dan patriotisme."
Ia juga membagikan sebuah tabel yang disebarkan kelompoknya di WhatsApp, berisi daftar merek sabun mandi, pasta gigi, dan minuman dingin India yang bisa dipilih sebagai alternatif dari produk asing.
Di media sosial, salah satu kampanye kelompok tersebut adalah grafis berjudul "Boikot Jaringan Makanan Asing," yang menampilkan logo McDonald's (MCD.N) dan merek-merek restoran lainnya.
McDonald's, Coca-Cola, Amazon, dan Apple belum menjawab pertanyaan yang dikirim jurnalis Reuters.
Pada Minggu, Modi secara khusus menegaskan bahwa perusahaan teknologi India memang membuat produk untuk dunia, tetapi "sekaranglah saatnya bagi kita untuk memprioritaskan kebutuhan India." Modi tidak menyebutkan nama perusahaan mana pun.
India, negara dengan populasi terpadat di dunia, merupakan pasar utama bagi perusahaan-perusahaan AS yang berkembang pesat untuk menyasar basis konsumen kaya yang terus berkembang, banyak di antaranya masih tergila-gila dengan merek internasional yang dianggap sebagai simbol kualitas hidup.
India, misalnya, merupakan pasar terbesar berdasarkan pengguna WhatsApp milik Meta, dan Domino's memiliki lebih banyak gerai di negara tersebut daripada merek lain. Minuman seperti Pepsi dan Coca-Cola sering mendominasi rak-rak toko. Orang-orang juga rela antre saat toko Apple baru dibuka atau Starbucks memberi diskon.
(ros)































