Industri-industri yang paling terpukul—juga termasuk yang paling padat karya—meminta pemerintah yang dipimpin Narendra Modi untuk membuat kebijakan-kebijakan guna mengurangi dampak dari hambatan perdagangan baru.
Para pemberi pinjaman India khawatir perang dagang akan menciptakan tekanan baru pada neraca keuangan dan membangkitkan kenangan pahit mengenai masalah utang negara yang menyiksa beberapa tahun lalu.
Beberapa pertanyaan utama mereka berkaitan dengan arus kas, rencana kelangsungan bisnis, dan upaya pembagian beban dengan pemangku kepentingan lain seperti distributor.
Dua sumber yang diwawancarai Bloomberg News menjelaskan beberapa bank sudah mulai mengidentifikasi klien yang paling rentan terdampak secara internal dengan memeriksa parameter keuangan seperti persentase pendapatan yang berasal dari AS. Paparan terhadap peminjam berisiko tertinggi akibat tarif AS saat ini tidak terlalu mengkhawatirkan.
Harap Tarif Batal
Sebagian besar eksportir, yang diwawancarai oleh para bankir ini mengenai masalah dagang tersebut, mengatakan mereka berharap sebagian tarif AS dibatalkan.
Eksportir India mulai merancang ulang strategi untuk menghadapi pungutan tak terduga tersebut melalui langkah-langkah, seperti berekspansi ke pasar lain, mengalihkan produksi dari India ke negara lain, dan menjajaki akuisisi di AS.
Beberapa eksportir yang memiliki cukup cadangan kas bisa mengalami kerugian selama satu atau dua tahun, tetapi mereka khawatir akan kerugian bisnis jangka panjang akibat persaingan dengan Bangladesh dan Pakistan. Negara-negara tetangga ini dikenai pungutan AS lebih rendah daripada India.
Menteri Perdagangan India Piyush Goyal mengatakan pada Parlemen akhir bulan lalu bahwa pemerintah federal sedang berkoordinasi dengan eksportir untuk menilai dampak tarif dan akan mengambil "semua langkah yang diperlukan untuk melindungi dan memajukan kepentingan nasional kita."
Dewan Promosi Ekspor Permata dan Perhiasan sedang mencari dukungan seperti keringanan keuangan dan tarif bea masuk.
Dalam pernyataan pada 7 Agustus, ketua kelompok perdagangan tersebut, Kirit Bhansali menyebut permintaan lainnya termasuk penangguhan bunga fasilitas modal kerja selama enam bulan, perpanjangan pembayaran pinjaman tanpa denda selama 90 hari sebelum pengiriman, dan pembekuan revisi penurunan peringkat kredit.
Pemeringkatan
Perusahaan pemeringkat belum mengambil tindakan apa pun terkait kelayakan kredit eksportir. Namun, perusahaan peminjam khawatir dan mencari bantuan pemerintah untuk mencegah penurunan peringkat yang akan meningkatkan biaya pendanaan.
Perwakilan bisnis India lainnya menginginkan likuiditas yang lebih besar dalam sistem perbankan untuk menanggulangi dampak dari tarif AS.
Rahul Mehta, Direktur Creative Garments Pvt yang berbasis di Mumbai, menilai Pemerintah India harus mendorong "bank untuk menurunkan suku bunga" agar bisnis tetap bertahan.
Penghapusan bea masuk atas bahan baku juga akan membantu, kata Mehta, seraya menyerukan respons pemerintah yang serupa dengan kebijakan darurat era Covid.
(bbn)































