Adapun, saat ini setidaknya terdapat sejumlah produsen mobil listrik di Indonesia yang menggunakan LFP sebagai bahan baku baterai untuk produknya. Antara lain Build Your Dreams (BYD), Wuling, hingga Chery.
General Manager BYD Asia-Pacific, Liu Xueliang mengatakan BYD merupakan perusahaan yang lahir dari bisnis baterai kendaraan listrik.
Lalu, perusahaan memutuskan untuk menggunakan baterai berbasis LFP karena dinilai aman berdasarkan riset dan analisis yang dilakukan terhadap seluruh bahan baku untuk membuat baterai.
Sementara itu, mobil listrik Wuling seperti Air EV dan BinguoEV juga menggunakan baterai LFP. Wuling Air EV mengusung baterai LFP yang mampu bertahan dengan jarak tempuh 200 hingga 300 kilometer dalam sekali pengisian daya.
Mobil listrik pertama Chery di Indonesia yakni Omoda E5 juga menggunakan baterai LFP pada kendaraannya.
Omoda 5 EV hadir dengan sejumlah keunggulan, seperti daya tempuh yang mencapai 450 km, pengisian daya baterai yang cepat, hingga berbagai fitur keamanan yang canggih.
Berdasarkan studi Bain tentang ekosistem baterai EV, permintaan baterai global diperkirakan tumbuh sekitar empat kali lipat antara 2023 dan 2030, yang didorong oleh meningkatnya adopsi EV.
Proyeksi tersebut memposisikan LFP untuk memainkan peran penting dalam memenuhi permintaan tersebut.
Pada 2030, NCM diproyeksikan akan mewakili sekitar 50% dari permintaan baterai ion litium, sementara LFP diperkirakan akan menyumbang sekitar 35%, di mana keduanya diperkirakan tetap menjadi pusat pertumbuhan industri baterai di masa depan.
Pabrik LFP di Indonesia
Di Indonesia sendiri, investasi di proyek LFP sudah mulai direalisasikan sejak tahun lalu seiring dengan dimulainya tahap pertama produksi dan rencana ekspansi pabrik bahan katoda LFP oleh PT LBM Energi Baru Indonesia pada 8 Oktober 2024.
Adapun, proyek ini terwujud melalui rencana kemitraan investasi antara konsorsium Indonesia Investment Authority (INA) dan Changzhou Liyuan New Energy Technology Co Ltd (Changzhou Liyuan), salah satu produsen dan pemasok LFP terbesar di dunia.
Fasilitas yang terletak di Kendal Industrial Park (KIP) ini—salah satu kompleks industri terbesar di Indonesia dengan status Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) — diproyeksikan untuk menjadi produsen katoda LFP terbesar di dunia, di luar China.
Investasi bersama yang direncanakan sebesar US$200 juta tersebut bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi dari 30.000 ton pada fase I, yakni yang saat ini sedang dalam pelaksanaan produksi percontohan, menjadi 90.000 ton pada fase II, yang diharapkan akan dimulai pada 2025.
Kemitraan strategis dengan China ini berfokus pada bahan katoda LFP yang mewakili nilai tambah tertinggi dalam rantai nilai baterai. Pada 2030, Indonesia diperkirakan melayani pasar senilai sekitar US$10 miliar dalam bahan aktif katoda LFP.
(azr/naw)
































