Logo Bloomberg Technoz

"Ekonomi dunia sedang dilanda banyak ketidakpastian—ada suasana ketidakstabilan," kata Modi dalam pidato di negara bagian Uttar Pradesh pada Sabtu. "Sekarang, apa pun yang kita beli, harus ada satu standar: kita akan membeli barang-barang yang dibuat dengan keringat orang India."

India menjadi salah satu target utama Trump saat ia berusaha menekan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengakhiri perang di Ukraina. Presiden AS itu mengecam India pekan lalu, mengkritiknya karena bergabung dengan kelompok negara-negara berkembang BRICS dan mempertahankan hubungan dekat dengan Rusia. Dia mengatakan "mereka akan menghancurkan ekonomi mereka yang mati bersama-sama."

Kritikan tersebut menandai perubahan mengejutkan nada AS, yang selama bertahun-tahun mengabaikan hubungan historis India yang dekat dengan Rusia karena negara tersebut ingin menjadi penyeimbang China di Asia.

Sumur minyak Rusia./dok. Bloomberg

Kini, Trump tampaknya bersedia membatalkan strategi tersebut untuk mendapatkan pengaruh terhadap Putin, yang telah menolak upaya Presiden AS itu untuk mengakhiri pertempuran di Ukraina. 

'Realistislah'

Stephen Miller, Wakil Kepala Staf Trump, menuduh India mengenakan tarif "besar-besaran" terhadap barang-barang AS dan "menipu" sistem imigrasi AS, selain membeli minyak Rusia dalam jumlah yang hampir sama dengan China.

"Presiden Trump, dia menginginkan hubungan yang luar biasa dan selalu memiliki hubungan yang luar biasa dengan India dan perdana menteri," kata Miller pada Minggu (3/8/2025). "Namun, kita perlu bersikap realistis dalam menangani pembiayaan perang ini."

"Jadi, Presiden Trump, semua opsi tersedia untuk menangani perang yang sedang berlangsung di Ukraina secara diplomatis, finansial, dan lainnya, sehingga kita bisa mencapai perdamaian," imbuh Miller.

Pekan lalu, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa ia "mendengar" India tidak akan lagi membeli minyak Rusia, menyebutnya "langkah yang baik."

Bloomberg melaporkan para perusahaan pengolah minyak diminta untuk menyusun rencana pembelian minyak mentah non-Rusia, tetapi salah satu sumber mengatakan instruksi tersebut hanyalah rencana skenario jika minyak mentah Rusia tidak tersedia.

New York Times pada Sabtu melaporkan India akan terus membeli minyak mentah Rusia meski diancam sanksi oleh Trump, mengutip dua pejabat senior India yang tidak disebutkan namanya. Juru bicara Kementerian Perminyakan tidak membalas pesan dari Bloomberg yang meminta komentar di luar jam kerja reguler.

India menjadi sasaran Uni Eropa dan AS karena mendukung Moskow selama perang di Ukraina dengan membeli minyak. India kini menjadi pembeli terbesar minyak mentah Rusia yang diekspor melalui jalur laut, menyerap barel-barel dengan harga diskon dan meningkatkan pembeliannya dari hampir nol menjadi sekitar sepertiga dari impornya.

Meski China merupakan pendukung ekonomi dan diplomatik utama Rusia, pengaruh Trump terhadap ekonomi terbesar kedua di dunia ini terbatas karena Beijing mengendalikan magnet tanah jarang yang dibutuhkan AS untuk memproduksi barang-barang berteknologi tinggi.

AS dan China telah mengadakan pembicaraan dalam beberapa bulan terakhir untuk menstabilkan hubungan mereka setelah keduanya menaikkan tarif barang satu sama lain jauh melebihi 100% pada awal tahun ini.

'Teruji Waktu'

India mempertahankan hubungannya dengan Rusia, salah satu pemasok senjata terbesarnya sejak era Perang Dingin. Kedua negara memiliki "kemitraan yang stabil dan teruji waktu," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri India, Randhir Jaiswal, kepada wartawan pada Jumat.

"Hubungan bilateral kami dengan berbagai negara didasarkan pada nilai-nilai masing-masing dan tidak boleh dilihat dari kacamata negara ketiga," kata Jaiswal. Saat ditanya mengenai hubungan dengan AS, ia menambahkan, ia "yakin hubungan ini akan terus berkembang."

Seorang pejabat di New Delhi mengungkap India memperkirakan negosiator perdagangan AS mengunjungi negaranya pada akhir bulan ini untuk melanjutkan perundingan mengenai perjanjian bilateral. India akan mempertahankan pendiriannya dan tidak akan memberi AS akses ke sektor susu dan pertaniannya, atas dasar sensitivitas politik dan agama.

Penekanan baru Modi terhadap manufaktur dan konsumsi dalam negeri mencerminkan inisiatif "Make in India" yang telah lama ia gagas. Namun, pesan tersebut kini semakin mendesak setelah tarif AS berlaku. 

"Kepentingan petani kita, industri kecil kita, dan lapangan kerja bagi kaum muda kita adalah prioritas utama," tegas Modi dalam pidato di hadapan massa pada Sabtu.

(bbn)

No more pages