Logo Bloomberg Technoz

Selain likuiditas yang sehat, BRI juga berhasil menurunkan biaya dana (cost of fund) sepanjang semester I-2025. Biaya dana keseluruhan tercatat menurun dari 3,7% pada 2024 menjadi 3,6% hingga Juni 2025. Bahkan, biaya dana dari dana pihak ketiga (DPK) turun dari 3,2% menjadi 3% per semester I-2025 ini.

"Kami berharap bahwa kedisiplinan kami dalam mengelola likuiditas ini dapat menjadi pondasi yang baik di separuh kedua 2025 ini," tutur Viviana.

Dari sisi permodalan, BRI juga turut mencatat Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 25,01% per Juni 2025. Angka ini jauh melampaui batas minimum regulator dan menunjukkan kapasitas permodalan yang sangat kuat.

"Sejauh ini BRI mungkin menjadi bank kedua dengan capital adequacy ratio yang tertinggi. Hal ini mencerminkan kemampuan BRI dalam menyerap resiko, setekali plus memberikan fleksibilitas untuk ekspansi bisnis di masa masa kita mendatang," pungkasnya.

Kinerja Keuangan Semester I-2025 BRI

Berdasarkan laporan keuangan BRI semester I-2025, perseroan membukukan laba bersih Rp25,53 triliun sepanjang semester I-2025. Perolehan laba ini mengalami penurunan 11,25% secara tahunan dari sebelumnya Rp29,89 triliun. BRI juga mencatat kenaikan pendapatan bunga 2,6% secara tahunan menjadi Rp102,37 triliun.

Sejalan dengan kenaikan itu, beban bunga terkerek 2,07% secara tahunan menjadi Rp29,1 triliun. Kemudian, pendapatan bunga bersih BBRI naik 2,8% secara tahunan menjadi Rp73,27 triliun. Namun, sejumlah pos operasional tercatat naik, seperti beban tenaga kerja yang naik 5,34% secara tahunan menjadi Rp21,73 triliun.

Kenaikan-kenaikan itu membuat laba operasional tercatat turun 9,20% secara tahunan menjadi Rp35 triliun, yang berujung pada penurunan laba bersih.

Meski mengalami penurunan laba bersih, penyaluran kredit BBRI terus tumbuh, dengan kenaikan 5,97% secara tahunan menjadi Rp1.416 triliun.

Dari jumlah tersebut, kredit UMKM tercatat sebesar Rp1.137,84 triliun, dengan komposisi sebesar 80,32% terhadap total portofolio kredit.

No more pages