“Kalau dari data nanti terlihat signifikan, tentu bisa jadi dasar untuk menyusun regulasi terhadap konsumsi pemanis buatan, termasuk di sektor industri makanan minuman,” kata Budi.
Meski program CKG menyentuh isu terkait metabolisme seperti anemia dan gula darah, anak-anak usia SD tidak menjalani pengambilan darah.
Budi mengatakan untuk siswa SD, pemeriksaan cukup melalui pengamatan fisik, pengukuran tekanan darah, tinggi badan, berat badan, serta skrining visual seperti gigi, mata, dan telinga.
“Untuk pengambilan darah baru dilakukan di SMP dan SMA, itu pun hanya cucuk jari, bukan seperti pengambilan darah di lab,” ucapnya.
Dia mengatakan pendekatan ini mempertimbangkan kondisi psikologis anak usia dini, namun tetap menghasilkan data awal yang cukup kuat untuk skrining risiko.
Masalah kebugaran anak juga disorot. Pemerintah akan mengintegrasikan program Senam Sehat dari Direktorat Mandikdasmen dengan program kesehatan Kemenkes. Sementara itu, anemia, yang juga menjadi temuan menonjol di CKG, akan direspons melalui perluasan program tablet tambah darah, khususnya untuk remaja putri.
Dengan sasaran lebih dari 53 juta pelajar di seluruh Indonesia, CKG Sekolah menjadi sumber data riil paling masif dalam sejarah sistem kesehatan Indonesia. Budi menyatakan, pemerintah tidak lagi menunggu masyarakat jatuh sakit, tapi mulai merancang sistem deteksi dini untuk menahan epidemi penyakit tidak menular.
“Data ini bisa jadi dasar intervensi, termasuk ke industri dan regulasi produk yang berisiko. Ini bagian dari upaya memotong siklus penyakit sejak anak-anak,” tegasnya.
(fik/spt)






























