Menurut data Kementerian Kesehatan yang direvisi yang dirilis Kamis malam, anak laki-laki berusia delapan tahun dan satu tentara termasuk di antara 14 korban tewas di Thailand. Ditambahkan bahwa 32 warga sipil dan 14 tentara terluka.
Ada beberapa perbedaan angka yang dilaporkan oleh otoritas di Bangkok, dan korban di pihak Kamboja masih belum jelas.
Operasi militer Thailand berhasil, tetapi mungkin "membutuhkan waktu," kata militer dalam jumpa pers pada Kamis malam. Perdana Menteri Kamboja Hun Manet meminta Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar pertemuan darurat, dengan alasan "agresi yang sangat serius" memaksa Kamboja untuk mempertahankan diri.
"Perselisihan ini meningkat cepat dan bisa berubah menjadi konflik serius jika dibiarkan tanpa penanganan," kata Jayant Menon, peneliti senior ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura. "Meski kecil kemungkinan meluas ke luar kedua negara, konflik ini akan mengganggu perdagangan dan pergerakan orang, yang akan berdampak negatif pada ekonomi regional."
Pertempuran ini terjadi saat kedua negara menghadapi ancaman perdagangan dari perang tarif Presiden AS Donald Trump.
Baht, yang sebelumnya meroket ke level tertinggi sejak Februari 2022, melemah 0,3% menjadi 32,25 per dolar. Saham Thailand ditutup lesu 0,6%.
Kedua negara tetangga ini memiliki sejarah panjang sengketa perbatasan, meski hubungan keduanya relatif stabil sejak konflik 2011, yang menewaskan puluhan orang. Gejolak besar terakhir berpusat di Kuil Preah Vihear, yang menjadi sumber pertikaian sejak masa kolonial Prancis.
Sebagian besar sengketa perbatasan kontemporer antara kedua negara tetangga ini bermula dari peta-peta yang berbeda berdasarkan teks perjanjian Franco-Siam pada awal 1900-an yang menetapkan batas-batas antara Thailand dan Kamboja, yang saat itu merupakan bagian dari Indochina Prancis.
Penjabat PM Phumtham Wechayachai mengatakan belum ada pembicaraan bilateral dengan Kamboja, setelah mengadakan pertemuan Dewan Keamanan Thailand. Ia menyebut "bentrokan" tersebut belum mencapai skala konflik besar-besaran.
"Ini bukan deklarasi perang," kata Phumtham. Namun, Thailand tetap memerintahkan evakuasi dalam radius 50 kilometer dari perbatasan.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, yang saat ini menjabat sebagai Ketua ASEAN, mengklaim telah berbicara dengan pemimpin kedua negara dan menyerukan gencatan senjata dalam waktu dekat.
"Malaysia siap membantu dan memfasilitasi proses ini," kata Anwar dalam pernyataan tertulisnya.
Baik AS maupun China menyatakan keprihatinan atas pertikaian tersebut dan mengirim peringatan kepada warga negaranya.
"Amerika Serikat mendesak segera menghentikan aksi militer, melindungi warga sipil, dan menyelesaikan konflik secara damai," kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott kepada wartawan di Washington pada Kamis.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun mendesak kedua belah pihak untuk "menangani masalah dengan tepat melalui dialog dan konsultasi."
Juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja, Maly Socheata mengecam aksi militer Thailand, menyatakan bahwa penggunaan senjata berat dan pengerahan pasukan Thailand "untuk menyerang wilayah Kamboja merupakan pelanggaran nyata" terhadap hukum internasional.
(bbn)




























