Kedua bank tersebut belum dapat dimintai komentar.
Sebelumnya, Uni Eropa telah mengusulkan agar kedua bank dimasukkan ke dalam daftar lembaga keuangan yang diduga membantu Moskow “dengan memproses transaksi atau menyediakan pembiayaan ekspor untuk perdagangan” yang bertujuan menghindari sanksi Uni Eropa, demikian dilaporkan Bloomberg News bulan lalu.
China telah memprotes usulan tersebut sejak awal. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, pada Juni lalu menyatakan bahwa “pertukaran dan kerja sama normal antara perusahaan-perusahaan China dan Rusia sesuai dengan aturan WTO dan prinsip pasar. Kerja sama tersebut tidak menargetkan pihak ketiga mana pun dan seharusnya tidak diganggu atau terkena dampaknya.”
Awal bulan ini, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, berjanji akan mengambil tindakan balasan jika bank-bank tersebut tetap masuk dalam daftar sanksi, sebagaimana dilaporkan South China Morning Post. Media yang sama juga menyebut bahwa duta besar Tiongkok untuk Uni Eropa sempat melakukan lobi untuk mencegah masuknya kedua bank ke dalam daftar.
Hubungan erat China dengan Rusia sebelumnya juga membuat bank-bank China dikenai sanksi serupa oleh AS. Hal ini memaksa sejumlah bank mengevaluasi kembali bisnis dan klien mereka. Sejumlah bank milik negara bahkan mulai membatasi pembiayaan kepada klien asal Rusia sejak awal tahun lalu, menyusul pemberlakuan sanksi sekunder oleh AS terhadap lembaga keuangan asing yang membantu upaya perang Moskow di Ukraina.
Pada Februari 2022, Industrial & Commercial Bank of China Ltd dan Bank of China Ltd dilaporkan oleh Bloomberg News mulai memperketat pembiayaan untuk komoditas asal Rusia, meskipun saat itu sanksi dari negara-negara Barat belum menyasar sektor energi Rusia. Bank-bank negara terbesar di China juga memiliki rekam jejak mematuhi sanksi AS sebelumnya terhadap Iran dan Korea Utara (Korut), demi menghindari risiko kehilangan akses ke sistem kliring dolar AS.
(bbn)





























