“Sekarang kita di fase development, goals-nya GED [general engineering design] sudah selesai, tender dalam progres, dan FID dalam progres,” ujar Milla.
Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto mengungkapkan FID PJSC Rosneft di Kilang Tuban bakal tuntas pada Agustus 2025.
Raksasa migas asal Rusia itu padahal sebelumnya tidak kunjung memberikan kepastian ihwal kelanjutan investasinya di Kilang Tuban. Menurut pemerintah, tersendatnya proses FID Rosneft di proyek GRR merupakan imbas sanksi Barat terhadap sektor energi Negeri Beruang Merah.
“FID akan [rampung] Agustus; itu dijanjikan,” kata Sugeng ditemui di Kompleks Parlemen, Senin (14/7/2025) petang.
Sugeng mengungkapkan janji FID tersebut disampaikan kepada Komisi XII di sela langsung ke proyek Kilang Tuban pada Jumat (11/7/2025).
“Kami duduk bersama adakah aspek-aspek teknis dan nonteknis, di mana secara teknis semuanya sudah siap,” ujar Sugeng.
PSN Prioritas
Lebih lanjut, Sugeng menyatakan Kilang Tuban nantinya akan masuk dalam daftar salah satu proyek strategis nasional (PSN) prioritas. Hal itu lantaran GGR Tuban nantinya digadang-gadang menggunakan teknologi terbaru.
“Maka kemarin ketika kita rapat dengan Menteri Investasi Pak Rosan, kita akan bicara tentang proyek strategis nasional prioritas dan itu masuk salah satunya [Kilang Tuban],” ungkap Sugeng.
Dalam perkembangan lain, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pernah mengungkapkan pemerintah masih berhitung ihwal investasi dan nilai keekonomian Kilang Tuban.
“Setelah dihitung kembali antara investasi dan nilai ekonominya masih terjadi review kembali lah. Belum pas, bahasa ekonominya itu tidak boleh saya sebutkan, tetapi belum pas aja. Belum cocok,” kata Bahlil di sela kegiatan Jakarta Geopolitical Forum 2025, Selasa (24/6/2025).
Bahlil mengatakan pemerintah terus mengevaluasi proyek dengan nilai investasi sebesar US$24 miliar atau sekitar Rp391,9 triliun (asumsi kurs Rp16.330 per dolar AS) tersebut.
Presiden Rusia Vladimir Putin padahal telah memberikan sinyal bahwa afiliasi Rosneft di Singapura, Rosneft Singapore Pte Ltd., masih berkomitmen untuk melanjutkan investasi Kilang Tuban.
Hal tersebut disampaikan Putin usai menerima kunjungan Presiden Prabowo Subianto di Istana Konstantinovsky, St. Petersburg, Kamis (19/6/2025) petang, waktu setempat.
Dalam kesempatan itu, Putin mengatakan Rosneft bersama Pertamina melaksanakan proyek bersama membangun kilang minyak dan kompleks petrokimia di Jawa Timur.
"Perusahaan Rosneft dan perusahaan Pertamina melaksanakan proyek bersama membangun kilang minyak dan kompleks petrokimia di provinsi Jawa Timur," ujar Putin dalam keterangannya yang disampaikan secara virtual.
Kendati demikian, Putin tidak mengelaborasi dengan lengkap ihwal tindak lanjut komitmen Rusia tersebut, termasuk soal keputusan FID.
Rosneft menjadi salah satu perusahaan migas Rusia yang terimbas sanksi dari negara-negara Barat yang menyasar pada akses pendanaan, teknologi, hingga jasa konstruksi kilang; menyusul invasi Kremlin terhadap Ukraina sejak awal 2022.
Di sisi lain, PT KPI mengungkapkan taksiran nilai investasi megaproyek GRR atau Kilang Tuban belakangan makin melebar.
Direktur Utama PT KPI Taufik Adityawarman membeberkan nilai investasi proyek Kilang Tuban itu kini berada di angka US$23 miliar dari rencana awal senilai US$13,5 miliar.
“Proyeksi [investasinya] pasti lebih, dampak time value of money, [angkanya] US$23 miliar,” kata Taufik di sela kegiatan IPA Convex di ICE BSD, Selasa (20/5/2025).
Proyek yang dikerjakan PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP) itu molor dari target FID yang ditagih Kementerian ESDM tahun lalu.
Pertamina melalui anak perusahaannya, KPI menguasai 55% saham PRPP, sedangkan 45% sisanya dikuasai oleh afiliasi Rosneft di Singapura, Rosneft Singapore Pte Ltd (dahulu Petrol Complex Pte Ltd).
(mfd/wdh)





























