Logo Bloomberg Technoz

Mengutip catatan Badan Pusat Statistik (BPS), sebenarnya impor dari AS tidak terlampau besar. Sepanjang Januari-Mei, nilai impor non-migas dari AS adalah US$ 3,83 miliar. Angka itu setara dengan 4,62% dari total impor non-migas Indonesia.

Impor Non-Migas Indonesia Menurut Negara Januari-Mei 2025 (Sumber: BPS)

Ada beberapa produk yang banyak didatangkan dari AS. Pertama adalah telur unggas. 

Sepanjang Januari-April, nilai impor komoditas ini adalah US$ 25.530. AS menjadi negara pemasok telur unggas impor terbesar ketiga bagi Indonesia, setelah India dan Jerman.

Kemudian ada daging jenis lembu, di mana nilai impor sepanjang Januari-April adalah US$ 852.174. AS menjadi pemasok terbesar setelah India, Australia, Brasil, dan Selandia Baru.

Lalu ada susu, dengan nilai impor pada 4 bulan pertama 2025 adalah US$ 24,53 juta. AS adalah pemasok susu impor terbesar bagi Indonesia setelah Selandia Baru, Australia, dan Belgia.

Salah satu impor terbesar Indonesia dari AS adalah kedelai. Pada Januari-April, nilainya mencapai US$ 360,77 juta. AS adalah negara asal kedelai impor terbesar, mengalahkan Kanada, Bolivia, hingga Malaysia.

Jagung juga menjadi produk AS yang banyak masuk ke Nusantara. Selama 4 bulan pertama 2025, impor jagung dari AS bernilai US$ 20,03 juta. AS adalah negara asal impor jagung terbesar kedua bagi Indonesia, hanya kalah dari Argentina.

Berikutnya ada komoditas gandum dan meslin. Sepanjang Januari-April, nilai impor komoditas ini adalah US$ 45,14 juta. Impor gandum dan meslin asal AS hanya kalah dari Australia, Kanada, Argentina, dan Brasil.

Ternyata Indonesia pun mengimpor ikan dari AS. Nilainya sepanjang Januari-April adalah US$ 8,72 juta. Hanya kalah dari China dan Norwegia.

Bahkan Indonesia pun mengimpor cengkeh dari AS, Nilainya memang relatif kecil yakni US$ 60.647 sepanjang Januari-April. AS menjadi negara asal cengkeh impor terbesar setelah Madagaskar dan Timor Leste.

Dampak Impor AS Bebas Bea Masuk

Kementerian Perdagangan menjawab kekhawatiran akan kemungkinan banjirnya barang-barang AS ke Indonesia. Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa kebanyakan barang yang diimpor AS ke Indonesia kebanyakan adalah bahan baku.

“Kebanyakan barang yang akan kita impor dari Amerika ini adalah bahan baku dan juga barang modal. Mengenai pembelian ini, sebenarnya negara lain juga melakukan.” kata Budi.

Akan tetapi, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Josua Pardede menyatakan penghapusan tarif impor dari produk-produk AS ke pasar Indonesia dapat menyebabkan lonjakan impor. Tanpa strategi substitusi yang jelas atau optimalisasi penggunaan barang modal impor untuk produksi bernilai tambah tinggi, maka akan menimbulkan risiko terhadap neraca perdagangan dalam jangka pendek hingga menengah.

“Jika tidak diimbangi dengan peningkatan produksi domestik yang kompetitif, ini akan menyebabkan pelebaran defisit neraca dagang secara keseluruhan,” tegas Josua.

(aji)

No more pages