Draf kebijakan tersebut diperkirakan akan segera diajukan untuk mendapatkan persetujuan kabinet, menurut sumber. Namun, alokasi anggaran final masih bisa berubah tergantung hasil konsultasi internal.
India mempercepat langkah ini setelah China — yang mengendalikan sekitar 90% kapasitas pengolahan rare earth global — memberlakukan pembatasan ekspor di tengah ketegangan dagang dengan AS.
Kebijakan tersebut mengganggu rantai pasok bagi produsen mobil global, termasuk yang beroperasi di India.
Jangan Dijadikan Senjata
Perdana Menteri India Narendra Modi menyoroti pentingnya pasokan mineral strategis yang andal dalam pertemuan BRICS di Rio de Janeiro akhir pekan lalu.
“Penting untuk memastikan tidak ada negara yang menggunakan sumber daya ini untuk keuntungan sendiri atau sebagai senjata terhadap negara lain,” kata Modi dalam acara tersebut.
India berencana mendukung 3 sampai 4 perusahaan besar untuk memproduksi sekitar 4.000 ton magnet berbasis neodymium dan praseodymium menggunakan bahan baku dalam negeri selama tujuh tahun, menurut dokumen kebijakan yang diperoleh Bloomberg News dan sumber terkait.
Program ini mencakup masa tenggang 2 tahun dan insentif akan diberikan selama 5 tahun setelah produksi dimulai. Pemerintah juga mempertimbangkan investasi hingga 6 miliar rupee untuk setiap 1.000 ton kapasitas produksi, kata sumber.
“Minat kami terhadap produksi magnet rare earth didasari oleh pentingnya mineral ini untuk teknologi hijau,” kata juru bicara Vedanta dalam pernyataan email, seraya menambahkan bahwa mineral ini “cepat menjadi alat baru dalam pengaruh global.”
Kementerian Industri Berat India dan JSW belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi yang dikirim melalui email.
CEO Sona BLW Vivek Vikram Singh mengatakan, produksi magnet di dalam negeri akan memperkuat rantai pasok perusahaan — salah satu produsen motor traksi kendaraan listrik terbesar di India.
Singh menambahkan bahwa pihaknya juga sedang mencari mitra teknologi untuk pengembangan magnet tersebut.
Menteri Industri Berat H.D. Kumaraswamy sempat menyampaikan rencana insentif untuk produsen magnet rare earth dalam sebuah acara di New Delhi bulan lalu, meski belum memberikan rincian lebih lanjut.
Upaya Awal dan Tantangan
Meski sejalan dengan dorongan global untuk memperkuat rantai pasok rare earth, alokasi anggaran India terbilang kecil dan target waktunya ambisius.
Pembangunan tambang dan fasilitas pengolahan bisa memakan waktu bertahun-tahun, sementara pengetahuan teknis masih terkonsentrasi di China.
Secara geologis, rare earth tidak terlalu langka. Namun, menambangnya secara ekonomis sulit dan seringkali berisiko terhadap lingkungan karena kadar rendah serta keterkaitannya dengan unsur radioaktif.
India sendiri telah lama berupaya meningkatkan produksi, baik secara domestik maupun melalui proyek luar negeri. Namun, upaya tersebut masih dalam tahap awal.
Perusahaan milik negara Khanij Bidesh India Ltd. memimpin langkah awal lewat konsesi tambang di Amerika Latin dan sedang menjajaki kerja sama dengan Argentina, Zambia, serta Australia.
Untuk saat ini, produksi magnet di India hampir mustahil dilakukan tanpa subsidi. Oksida yang dibutuhkan masih dipasok oleh Indian Rare Earths Ltd. milik negara, dan tingkat pengembalian investasi masih negatif tanpa dukungan dana modal dan operasional, ujar para sumber.
Dalam rencana kebijakan, pemerintah akan membuka peluang bagi perusahaan untuk mengajukan kapasitas produksi tahunan antara 500 hingga 1.500 ton.
Untuk memenuhi syarat, perusahaan harus mengikuti standar ketat, termasuk kewajiban bahwa 50% dari nilai produk akhir berasal dari oksida neodymium-praseodymium produksi dalam negeri — bahan penting untuk membuat magnet berkinerja tinggi.
Ketentuan ini akan meningkat menjadi 80% pada tahun kelima masa produksi, menurut dokumen tersebut.
(bbn)


























