Analis dan Founder Stocknow.id Hendra Wardana mengatakan, kesepakatan tarif Trump nanti dapat mempengaruhi indeks saham Indonesia, namun hal itu hanya terjadi dalam jangka pendek dikarenakan indeks saham Indonesia dipengaruhi oleh beberapa penyebab.
Hendra menilai ketidakpastian kebijakan fiskal AS, arah suku bunga The Fed, serta penilaian APBN 2026 mencerminkan proyeksi pelemahan ekonomi nasional tahun depan. Pemerintah Prabowo juga menjadi perhatian akibat arah kebijakan hilirisasi, fiskal, dan investasi.
“Dengan kondisi tersebut, investor disarankan tetap selektif, fokus pada saham berfundamental kuat, dan menjaga eksposur terhadap sektor-sektor yang sensitif terhadap ketidakpastian eksternal,” jelas Hendra, dikutip Senin (7/7/2025).
Setali tiga uang, menurut Reydi, arah kebijakan suku bunga The Fed masih belum jelas, sementara ketegangan geopolitik global juga belum mereda. Nilai tukar rupiah yang rentan terhadap penguatan dolar AS menjadi faktor tambahan yang bisa memicu tekanan lanjutan.
Di dalam negeri, lemahnya data ekonomi kuartal kedua dan tekanan penjualan bersih (net sell) dari investor asing juga menjadi tantangan yang harus diwaspadai dalam beberapa bulan ke depan.
Rebound Teknikal
Secara teknikal, Hendra mengatakan IHSG masih menguji support penting di area 6.840-6.820. Namun, bila mampu bertahan, terdapat potensi rebound ke level 6.950-7.000. “Bila tekanan global dan pelemahan rupiah berlanjut, risiko koreksi ke kisaran 6.750-6.700 tak dapat diabaikan,” ujarnya.
Hingga akhir kuartal III 2025, IHSG diprediksi bergerak dalam rentang konsolidasi 6.700-6.7120 dengan arah pergerakan bergantung terhadap kepastian sikap Trump pasca 9 Juli 2025 dan stabilitas harga nilai tukar rupiah.
Sementara, Reydi memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam rentang konsolidasi antara level 6.700 sebagai support dan 7.240 sebagai resistance.
“Belum ada dorongan fundamental yang cukup kuat untuk mendorong breakout ke atas, sehingga investor perlu berhati-hati dan tidak terlalu agresif dalam menyikapi kenaikan teknikal yang mungkin terjadi dalam waktu dekat.” kata Reydi.
Sektor Unggulan
Menurut Reydi, peluang pemulihan akan lebih terasa pada sektor-sektor yang diuntungkan oleh meredanya tensi dagang global. Komoditas ekspor seperti crude palm oil (CPO), nikel, dan logam dasar dinilai memiliki potensi untuk bangkit karena permintaan global cenderung stabil.
Sektor manufaktur dan otomotif juga bisa kembali pulih, terutama jika rantai pasok ekspor-impor kembali lancar. Sementara itu, industri tekstil dan garmen, yang dikenal sangat sensitif terhadap kebijakan tarif, juga berpotensi mendapatkan angin segar jika beban ekspor ke AS dikurangi.
Di sisi lain, sejumlah sektor masih harus dicermati secara hati-hati. Sektor perbankan dan properti masih tertahan oleh kondisi suku bunga yang tinggi dan lemahnya permintaan kredit.
Sektor konsumer, terutama yang menyasar kelas menengah ke bawah, juga belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan karena masih dibebani inflasi serta daya beli yang lemah.
Sementara menurut Hendra, di tengah tekanan dinamika global tersebut, sektor-sektor yang mampu bertahan yakni saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) akibat memiliki katalis domestik yang kuat dan fundamental yang kokoh.
“BMRI masih menjadi pilihan utama di sektor perbankan besar, dengan target harga di level Rp5.150 karena eksposurnya yang dominan ke sektor produktif serta kekuatan likuiditas. MBMA dinilai menarik untuk akumulasi dengan target harga Rp530, didorong oleh meningkatnya permintaan global terhadap bahan baku kendaraan listrik dan komitmen terhadap transisi energi."
Sementara itu, TOWR menjadi pilihan defensif di sektor infrastruktur digital dengan target harga Rp625, mengingat pertumbuhan permintaan jaringan dan layanan 5G tetap kuat meski dalam tekanan ekonomi.
Dalam penundaan perencanaan tarif dagang Trump, Hendra menilai sektor logam dan mineral strategis secara umum dapat diuntungkan dari peredaan tensi dagang karena mendukung kelancaran rantai pasok bahan baku ekspor.
Sebaliknya, sektor manufaktur, perdagangan, dan properti masih perlu diwaspadai karena rentan terhadap gejolak nilai tukar dan biaya impor yang meningkat.
***Dengan asistensi Muhammad Fikri***
(dhf)





























