“[Skemanya] MIND ID melalui penambahan modal terhadap IBC. Tidak langsung dari Danantara,” kata Dony ditemui terpisah di agenda yang sama.
Porsi Saham
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menyebut kepastian keterlibatan Danantara di Proyek Dragon salah satunya ditujukan lantaran pemerintah ingin menambah porsi saham BUMN di lini hilir proyek tersebut, sehingga dibutuhkan sokongan dana melalui IBC.
Pada kesempatan saya sama kemarin, Bahlil juga memastikan konsorsium CATL tidak keberatan untuk memberikan sebagian porsi sahamnya ke pemerintah di lini hilir proyek ekosistem baterai terintegrasi bersama IBC itu.
Bahlil mengatakan kolaborasi antara konsorsium CATL—melalui CBL — beserta IBC dan Antam atau Antam mencakup investasi industri baterai dari hulu ke hilir.
Di tingkat hulu atau tambang nikel, kata Bahlil, porsi saham BUMN melalui Antam mendominasi sebesar 51%. Akan tetapi, di tingkat antara atau smelter berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF) dan pabrik high pressure acid leach (HPAL), porsi saham BUMN hanya 30%—35%.
Sementara itu, di tingkat hilir alias lini pabrikan prekursor, katoda, hingga sel baterai; porsi saham BUMN hanya sebesar 30% atau minimalis dibandingkan dengan kepemilikan grup CATL.
“Saya sudah bicara dengan mereka [perwakilan CBL] untuk menaikkan kepemilikan saham negara lain, dan mereka pada prinsipnya tidak masalah,” ujar Bahlil.
Investasi CATL di Proyek Dragon dilakukan lewat CBL, usaha patungan bersama dengan Brunp dan Lygend. Dua perusahaan yang disebut terakhir punya keahlian pada pembuatan bahan baku baterai setrum.
Sementara itu, IBC menjadi perwakilan dari sejumlah BUMN yang mengambil bagian pada rencana investasi konsorsium CBL tersebut.
Saham IBC dipegang oleh Antam dengan porsi 26,7%, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) sebesar 26,7%, PT Perusahaan Listrik Negara atau PLN dengan porsi 19,9%, serta PT Pertamina New & Renewable Energy dengan bagian 26,7%.
IBC bersama dengan konsorsium CBL telah menandatangani sejumlah JV pada beberapa tahap bisnis baterai EV itu dari sisi hulu atau upstream tambang, antara atau midstream, sampai hilir atau downstream berupa pabrik sel baterai.
Di sisi hulu, terbentuk 3 usaha patungan di antaranya PT Sumber Daya Arindo (SDA), yang mengelola tambang nikel. Antam memegang 51% saham sementara sisanya dipegang afiliasi CBL, Hongkong CBL Limited (HKCBL).
Selanjutnya, usaha patungan di sisi RKEF dan kawasan industri lewat PT Feni Haltim (PFT), dengan porsi saham Antam 40%.
Sementara itu, Antam memegang saham 30% untuk usaha patungan pabrik hidrometalurgi atau HPAL.
Adapun, usaha patungan lainnya dikerjakan IBC bersama dengan CBL meliputi bahan baku baterai, perakitan sel baterai hingga daur ulang.
IBC cenderung memiliki saham minoritas pada lini kerja sama midstream sampai hilir ini. IBC memegang saham 30% untuk proyek pengolahan bahan baku baterai dan perakitan sel baterai.
Sementara itu, IBC mendapat bagian 40% saham untuk usaha patungan di sisi daur ulang baterai.
(wdh)




























