Sementara itu, US$4,7 miliar dialokasikan untuk proyek hulu di tambang nikel, smelter RKEF dan HPAL, hingga pabrik prekursor dan katoda di Halmahera Timur, Maluku Utara.
Proyek tersebut juga diklaimnya menggunakan pasokan energi listrik dari PLTS berkapasitas 150 megawatt (MW) dan dari pengolahan limbah sebesar 30 MW. “Jadi betul-betul kita dorong untuk mengarah ke ramah lingkungan,” ujarnya.
Hilirisasi Pascatambang
Pada kesempatan tersebut, Bahlil juga mengatakan pemerintah sudah menyiapkan program hilirisasi pascatambang dari Proyek Dragon di Maluku Utara.
Dia berharap, setelah umur tambang nikel untuk proyek tersebut habis, hilirisasi bisa dilanjutkan untuk investasi di sektor perikanan dan perkebunan dengan memanfaatkan lahan-lahan bekas tambang nikel.
“Nah untuk Maluku Utara, lewat proyek ini, pada tahun ke-8—9 mereka akan melakukan proses untuk membangun pusat ekonomi baru di sektor perikanan dan perkebunan, dengan memanfaatkan lahan-lahan eks tambang; agar begitu tambang selesai, tetap perputaran ekonomi di daerah terus berjalan.”
Investasi CATL di Proyek Dragon dilakukan lewat Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co Ltd (CBL), usaha patungan bersama dengan Brunp dan Lygend. Dua perusahaan yang disebut terakhir punya keahlian pada pembuatan bahan baku baterai setrum.
Sementara itu, IBC menjadi perwakilan dari sejumlah BUMN yang mengambil bagian pada rencana investasi konsorsium CBL tersebut.
Saham IBC dipegang oleh Antam dengan porsi 26,7%, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) sebesar 26,7%, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN dengan porsi 19,9%, serta PT Pertamina New & Renewable Energy dengan bagian 26,7%.
IBC bersama dengan konsorsium CBL telah menandatangani sejumlah usaha patungan atau joint venture (JV) pada beberapa tahap bisnis baterai EV itu dari sisi hulu atau upstream tambang, antara atau midstream, sampai hilir atau downstream berupa pabrik sel baterai.
Di sisi hulu, terbentuk 3 usaha patungan di antaranya PT Sumber Daya Arindo (SDA), yang mengelola tambang nikel. Antam memegang 51% saham sementara sisanya dipegang afiliasi CBL, Hongkong CBL Limited (HKCBL).
Selanjutnya, usaha patungan di sisi RKEF dan kawasan industri lewat PT Feni Haltim (PFT), dengan porsi saham Antam 40%.
Sementara itu, Antam memegang saham 30% untuk usaha patungan pabrik hidrometalurgi atau HPAL.
Adapun, usaha patungan lainnya dikerjakan IBC bersama dengan CBL meliputi bahan baku baterai, perakitan sel baterai hingga daur ulang.
IBC cenderung memiliki saham minoritas pada lini kerja sama midstream sampai hilir ini. IBC memegang saham 30% untuk proyek pengolahan bahan baku baterai dan perakitan sel baterai. Sementara itu, IBC mendapat bagian 40% saham untuk usaha patungan di sisi daur ulang baterai.
(wdh)




























