“Ini bukan angka kecil, dan lapangan pekerjaan yang bisa dibuka mencapai 35.000 yang tidak langsung, dan 8.000 yang langsung,” kata Bahlil.
Dampak Ekonomi
Tidak hanya itu, Bahlil mengeklaim Proyek Dragon akan memiliki efek pengali atau multiplier effect hingga mencapai US$45 miliar (sekira Rp728,09 triliun asumsi kurs saat ini) per tahun terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Dan setiap tahun, ketika harganya naik, [efek pengali] itu naik lagi,” ujarnya.
Terkait dengan itu, Bahlil meminta investor asal China di Proyek Dragon juga menggandeng pengusaha daerah untuk bidang-bidang pekerjaan seperti kontraktor, logistik, pengadaan barang, dan bahan bakar minyak (BBM).
Dengan demikian, manfaat ekonomi dari megaproyek ekosistem baterai tersebut tidak hanya dirasakan oleh pemerintah pusat dan investor, tetapi juga pengusaha daerah, masyarakat, dan pemerintah daerah.
Pada kesempatan yang sama, Presiden Prabowo Subianto mengatakan pembangunan ekosistem baterai terintegrasi ersebut diharapkan menjadi salah satu langkah dalam mencapai swasembada energi.
Dalam kaitan itu, dia menargetkan Indonesia dapat mencapai swasembada energi dalam 5—7 tahun mendatang.
“Dan salah nanti jalan kita menuju swasembada energi adalah listrik, listrik dari tenaga surya, dan listrik dari tenaga surya kuncinya baterai. Dan hari ini kita saksikan, tadi laporannya menghasilkan 15 gigawatt, [GW]” kata Prabowo.
Dengan begitu, Kepala Negara juga menargetkan pembangunan pabrik-pabrik terkait dengan hilirisasi serupa dalam masa mendatang untuk mencapai swasembada energi.
Para pakar juga menyampaikan kepadanya bahwa Indonesia setidaknya membutuhkan 100 GW listrik untuk mencapai swasembada energi.
“Berarti mungkin proyek ini harus dilipatgandakan, mungkin. Saya percaya kita mampu melaksanakan itu,” klaim Prabowo.
Dalam kesempatan itu, Prabowo turut mengucapkan apresiasinya terhadap pihak China dan CATL yang turut mendukung proyek tersebut.
“Saya ucapkan selamat pada semua unsur, terima kasih kawan-kawan kita dari CATL, dari Tiongkok. Kerja sama ini saya kira sangat penting dan menguntungkan semua pihak, di tengah dunia penuh konflik, kawasan kita penuh perdamaian,” tegas Kepala Negara.
Proyek Dragon bersama entitas CATL terbagi ke dalam enam proyek, di mana lima di antaranya merupakan proyek hulu dan antara yang dikembangan di kawasan Halmahera Timur, Maluku Utara; sedangkan satu proyek di lini hilir dikembangkan di Karawang, Jawa Barat.
Investasi raksasa baterai China pada Proyek Dragon dilakukan lewat Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co Ltd (CBL), usaha patungan bersama dengan Brunp dan Lygend. Dua perusahaan yang disebut terakhir punya keahlian pada pembuatan bahan baku baterai setrum.
Sementara itu, IBC menjadi perwakilan dari sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) yang mengambil bagian pada rencana investasi konsorsium CBL tersebut.
Saham IBC dipegang oleh PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam dengan porsi 26,7%, PT Indonesia Asahan Aluminium atau Inalum sebesar 26,7%, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN dengan porsi 19,9%, serta PT Pertamina New & Renewable Energy dengan bagian 26,7%.
Proyek ini dijalankan melalui serangkaian pembentukan usaha patungan atau joint venture (JV) yang mencakup tiga tahap industri yaitu hulu (tambang), antara (smelter katoda, anoda, dan prekursor), dan hilir (produksi dan daur ulang baterai).
Di sisi hulu, IBC dan CBL membentuk tiga usaha patungan, salah satunya adalah PT Sumber Daya Arindo (SDA) yang mengelola tambang nikel. Antam memegang 51% saham di SDA, sementara sisanya dimiliki oleh afiliasi CBL, yakni Hongkong CBL Limited (HKCBL).
Selain SDA, struktur JV juga mencakup PT Feni Haltim (PFT) yang akan mengembangkan fasilitas pirometalurgi berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF) serta kawasan industri di Halmahera Timur.
Dalam entitas ini, Antam memegang 40% saham. Sementara itu, untuk fasilitas hidrometalurgi atau high pressure acid leach (HPAL), Antam memiliki 30% porsi kepemilikan.
Di sektor menengah hingga hilir, IBC berperan dalam pengolahan bahan baku baterai, perakitan sel, hingga pengelolaan daur ulang. IBC memiliki 30% saham di proyek pengolahan dan produksi baterai, serta 40% saham dalam proyek daur ulang baterai.
Skema ini menunjukkan kecenderungan kepemilikan minoritas dari pihak Indonesia di sisi manufaktur.
(wdh)































