Logo Bloomberg Technoz

“Bahkan pekan ini, pada Kamis, Jumat sudah ada tim dari Rusia yang akan datang ke Indonesia untuk memulai menindaklanjuti apa yang diomongkan [pertemuan bilateral] minggu lalu,” ujarnya.

Menurutnya, tim dari Rusia itu akan menyurvei sejumlah sumur migas yang berlokasi di Sumatra, termasuk Natuna, serta lokasi lain di Pulau Jawa. 

Dia pun optimistis dengan investasi tersebut karena Presiden Prabowo Subianto dianggap memiliki jaringan pengusaha minyak yang cukup banyak di Rusia.

“Bahwa Presiden Prabowo sebelum menjadi presiden kan juga adalah di dunia usaha dan salah satu  jaringan di bidang energinya kan cukup baik,” tuturnya.

Saat ditanya berapa volume lifting minyak yang potensial dihasilkan sumur-sumur tersebut, Bahlil belum bisa mengelaborasi lebih lanjut. Dia berjanji akan menjelaskan hal itu setelah delegasi investor Rusia datang ke Indonesia pada pekan ini. 

“Saya belum bisa berbicara teknis terlalu mendalam. Begitu setelah rapat dengan tim dari Rusia pada Kamis—Jumat baru saya akan sampaikan,” imbuhnya. 

Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan Rusia bersedia ikut serta dalam proyek hulu migas baru di lepas pantai (offshore) Indonesia.

Selain itu, Putin juga mengatakan Rusia bersedia untuk melakukan modernisasi terhadap infrastruktur untuk mendongkrak produksi minyak Indonesia dari ladang-ladang tua.

"Kami bersedia untuk ikut serta dalam proyek baru di lepas pantai Indonesia dan juga melakukan modernisasi infrastruktur supaya mendongkrak minyak dari ladang tua," kata ujar Putin, Kamis (19/6/2025) malam, saat pertemuan bersama Prabowo di Istana Konstantinovsky, St. Petersburg.

Eksplorasi Blok Tuna

Di sisi lain, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto mengonfirmasi lokasi investasi incaran Rusia yang dimaksud Bahlil merupakan Blok Tuna di lepas pantai Kepulauan Natuna.

"Iya, [Blok Tuna],"  kata Djoko saat dimintai konfirmasi, Selasa (24/6/2025).

Blok Tuna akan dikerjakan oleh BUMN migas Rusia, JSC Zarubezhneft, lewat anak usahanya Zarubezhneft Asia Limited (ZAL).

Dalam pertemuan bilateral dengan Rusia pekan lalu, Djoko memang dijadwalkan bertemu dengan Direktur Jenderal Zarubezhneft Asia Limited Alexander Mikhaylov di St. Petersburg.

Pertemuan itu menurut rencana membahas kelanjutan proyek Blok Tuna, lepas pantai Natuna utara.

Blok kaya gas berdekatan dengan Vietnam itu telah mendapat persetujuan rencana pengembangan atau plan of developement (PoD) sejak Desember 2022.

Hanya saja, konsorsium Premier Oil (anak usaha Harbour Energy dari Inggris) dan ZAL tidak kunjung meneken keputusan investasi akhir atau final investment decision (FID) akibat sanksi yang dikenakan kepada sektor energi Rusia akibat invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Di sisi lain, Kepala Divisi Prospektivitas Migas dan Manajemen Data Wilayah Kerja SKK Migas Asnidar menuturkan Zarubezhneft bakal tetap berada di proyek Blok Tuna, setelah sebelumnya sempat dikabarkan hengkang.

“Kami sudah dapat gambaran dari Harbour, most likely [kemungkinan besar] ZAL masih stay [tetap] di [blok] Tuna,” kata dia.

Blok Tuna diestimasikan memiliki potensi gas di kisaran 100—150 million standard cubic feet per day (MMSCFD), menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).  

Adapun, investasi pengembangan lapangan hingga tahap operasional pada awalnya ditaksir mencapai US$3,07 miliar.

(mfd/wdh)

No more pages