Logo Bloomberg Technoz

Nah, ini memang kalau bisa lahan-lahan bekas tambang ini dimanfaatkan karena diharapkan artinya nilai harga tanahnya itu sudah tidak signifikan. Walaupun ada paling disewa ya. Nah, ini harusnya bisa dilakukan supaya investasinya menjadi murah,” kata Arya di sela kegiatan peluncuran Solar Academy, dikutip Jumat (20/6/2025).

Mengingat kebutuhan bauran energi baru terbarukan (EBT) dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) 2025—2034 cukup tinggi, Arya menyarankan perusahaan dapat bekerja sama dengan pembangkit swasta atau independent power producer (IPP) untuk memanfaatkan eks lahan tambang tersebut.

Perusahaan tambang, kata dia, dapat menyewakan eks lahan tambang itu, bahkan perusahaan tersebut dapat menjadi IIP.

“Itu bisa dimungkinkan juga kan, tetapi tentunya karena bisnisnya tambang tentu akan berbeda bisnisnya,” ujarnya.

“Jadi mungkin lebih baik misalnya memang IPP. Karena kalau untuk IPP yang menjual listrik ke PLN kan perusahaannya itu harus terdaftar dahulu di PLN. Sudah jadi dalam list DPT mereka. Nah ini mereka bekerja sama dengan perusahaan tambang, kalau misalnya itu dibangun di satu daerah yang kebetulan di sana ada lahan-lahan bekas tambang. Itu bisa dimanfaatkan.”

Dilakukan Adaro

Arya menjelaskan hingga saat ini perusahaan tambang yang telah memanfaatkan lahan bekas tambang yakni Adaro Group. Namun, Adaro masih menggunakannya untuk kepentingan perseroan.

Dia pun menyebut tidak menutup kemungkinan perusahaan tambang tersebut dapat menjualnya langsung ke PLN.

“Jadi mereka sudah pasang PLTS terapung. Akan tetapi, listriknya memang masih untuk keperluan mereka sendiri. Jadi itu yang salah satu yang diminta oleh Kementerian ESDM untuk memanfaatkan lahan-lahan bekas tambang,” ucapnya. 

Global Energy Monitor (GEM) memperkirakan pemanfaatan tambang bekas batu bara dapat menambah kapasitas tenaga surya terpasang sebesar 15% atau 300 gigawatt (GW) secara global.

Menurut lembaga yang berbasis di San Fransisco itu, tambang batu bara yang sudah tidak digunakan lagi atau ditutup pada akhir dekade ini memiliki cukup kapasitas tenaga surya fotovoltaik (PV) potensial untuk memberi daya pada negara seukuran Jerman selama setahun.

“Analisis pertama dari jenisnya ini menggunakan data di Global Coal Mine Tracker untuk mengidentifikasi 312 tambang batu bara permukaan yang telah menganggur dan rusak sejak 2020,” papar lembaga tersebut dalam laporannya.

GEM mengelaborasi tambang-tambang batu bara yang ditinggalkan ini tersebar di 2.089 kilometer persegi (km²), area dunia yang hampir setara ukuran Luksemburg.

Dengan pemanfaatan ulang, terang mereka, proyek-proyek peralihan batu bara ke tenaga surya ini dapat menempatkan 103 GW kapasitas tenaga surya di lahan-lahan telantar.

Alat berat beroperasi di tambang batu bara terbuka PT Bukit Asam di Tanjung Enim, Sumatra Selatan./Bloomberg-Dadang Tri

Analisis tersebut selanjutnya mengidentifikasi 3.731 km² lahan tambang yang mungkin ditinggalkan oleh operatornya sebelum akhir 2030, karena menipisnya cadangan dan umur tambang atau life of mine (LoM) yang dilaporkan.

Jika operasi tersebut ditutup, kata GEM, mereka dapat menempatkan tambahan kapasitas tenaga surya sebesar 185 GW.

Secara total, GEM memperkirakan terdapat 446 tambang batu bara dan 5.820 km² lahan tambang terbengkalai dapat digunakan untuk pemanfaatan kembali tenaga surya.

“Dengan pengembangan, proyek-proyek tersebut dapat menampung hampir 300 GW potensi tenaga surya fotovoltaik, setara dengan 15% dari kapasitas tenaga surya terpasang secara global,” papar mereka.

Data baru tentang proyek batu bara ke tenaga surya menunjukkan bahwa China memiliki 90 konversi tambang batu bara ke tenaga surya yang beroperasi, dengan kapasitas 14 GW, serta 46 proyek lagi, dengan 9 GW, dalam perencanaan.

Sementara itu, empat produsen batu bara utama berikutnya — Australia, AS, Indonesia, dan India — memiliki hampir tiga perempat potensi global untuk transisi batu bara ke tenaga surya.

Menurut GEM, konversi ini tidak hanya akan membantu dunia mencapai tujuan global untuk melipatgandakan kapasitas energi terbarukan pada akhir dekade ini, tetapi juga akan memberikan insentif ekonomi untuk reklamasi dan pembersihan sisa-sisa penambangan, yang bukan merupakan rutinitas standar di sebagian besar dunia.

(mfd/wdh)

No more pages