Misalnya, afiliasi PJSC Rosneft Oil Company di Singapura, Rosneft Singapore Pte Ltd., yang bermitra dengan PT Pertamina dalam megaproyek Grass Root Refinery (GRR) Tuban di Jawa Timur.
Selain itu, Rusia mengatakan bersedia untuk ikut serta dalam proyek baru di lepas pantai Indonesia dan juga melakukan modernisasi infrastruktur untuk mendongkrak produksi siap jual (lifting) minyak dari ladang tua.
Perlu diketahui, Rusia selama ini memang merupakan salah satu produsen terbesar minyak di dunia.
Menyitir dokumen bertajuk Country Analysis Brief: Russia oleh U.S. Energy Information Administration (EIA), cadangan minyak yang terbukti di Rusia adalah 80 miliar barel per 1 Januari 2024.
Menyitir situs resmi International Energy Agency (IEA), Rusia adalah produsen minyak terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi.
Pada Januari 2022, total produksi minyak Rusia adalah 11,3 juta barel per hari. Sebagai perbandingan, total produksi minyak AS adalah 17,6 juta barel per hari sementara Arab Saudi memproduksi 12 juta barel per hari.
Sementara itu, produksi LNG Rusia meningkat hampir 10% secara tahunan atau year on year (yoy) pada paruh pertama 2024, dengan Asia menyumbang hampir setengah dari total ekspor LNG Rusia. Hal itu termaktub dalam laporan bertajuk Gas Market Report, Q3-2024 oleh International Energy Agency (IEA).
Sinyal Indonesia bisa membeli minyak dari Rusia setelah resmi bergabung secara penuh dalam aliansi Brasil, Russia, India, China, dan Afrika Selatan (BRICS) pertama kali dilempar oleh Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan.
Menurut Luhut, pada dasarnya Indonesia bisa membeli minyak dari mana pun, termasuk dari Rusia, sepanjang transaksinya menguntungkan Indonesia dengan mendapatkan harga yang lebih murah dibandingkan dengan mengimpor dari negara lain.
"Ya ke mana saja kalau menguntungkan Republik Indonesia kita beli, kalau kita ada dari bulan kita beli [...] Kalau kita dapat lebih murah US$20 atau US$22 [per barel] kenapa tidak?" ujar Luhut saat ditemui di kantornya, Kamis (9/1/2025).
Sekadar catatan, aliansi Group of Seven (G-7), atau yang terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Jerman dan sebagainya, memberikan sanksi atas minyak Rusia. Sanksi itu diberikan dengan menerapkan batas harga (price cap) US$60 per barel atas minyak mentah Ural dari Rusia.
Selain itu, menyitir Bloomberg News, AS bergeming dari penentangannya terhadap price cap G-7 yang lebih rendah atas penjualan minyak Rusia, kata orang-orang yang mengetahui masalah tersebut.
Sikap AS ini meredam harapan Eropa bahwa para pemimpin yang bertemu untuk pertemuan puncak Kelompok Tujuh di Kanada tahun ini akan menyetujui pemotongan price cap minyak Rusia tersebut.
Namun, harga minyak dari Rusia itu masih lebih rendah dibandingkan dengan West Texas Intermediate (WTI) dan Brent. Sebagai perbandingan, harga Brent untuk pengiriman Maret masih bertengger di US$76,07/barel pada pukul 11:52 di Singapura hari ini, sedangkan WTI untuk pengiriman Februari US$73,20/barel.
Mulai Masuk
Pada perkembangan terakhir, Pertamina mengungkapkan Indonesia sudah mulai mengeksekusi impor minyak mentah (crude) dari Rusia, setelah lama menjadi wacana pemerintah.
Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Taufik Aditiyawarman mengonfirmasi kebijakan impor minyak mentah dari Rusia “masih dibuka” pemerintah, dan akan dilakukan sesuai dengan prosedur dan persyaratan yang berlaku.
PT KPI sudah terlebih dahulu mendata kebutuhan minyak mentah untuk kilang-kilang perseroan dan pengadaannya dilakukan melalui lelang terbuka, termasuk untuk minyak mentah dari Rusia.
Taufik mengungkapkan proses tender pengadaan minyak mentah untuk KPI pun telah dibuka sejak Mei tahun lalu, dan beberapa minyak asal Rusia telah masuk. Meski demikian, dia tidak mendetailkan volumenya.
“Termasuk crude Rusia. Ada beberapa crude Rusia yang masuk. Kita juga akan sesuai dengan peraturan OPEC-nya. [...] Tetap harus mengikuti aturan itu,” ujarnya saat ditemui di agenda IPA Convex di ICE BSD, Rabu (21/5/2025).
Di sisi lain, S&P Global melaporkan terdapat operator tanker berbeda Indonesia yang membawa minyak mentah dari Rusia sebanyak 2 juta barel per 25 April 2025.
Akan tetapi, data terakhir S&P Global Oil Tracker yang dilansir pada Mei tersebut tidak menunjukkan Indonesia termasuk dalam daftar negara tujuan aliran minyak mentah Rusia.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia bakal menyelidiki laporan yang menyebutkan terdapat tanker Indonesia yang membawa minyak mentah dari Rusia akhir bulan lalu.
Bahlil mengatakan dirinya belum mendapat laporan terkait dengan impor minyak mentah asal Rusia tersebut. Dia beralasan kementeriannya hanya mengeluarkan izin impor minyak tanpa mengetahui asal negara tujuan impor.
“Asal negaranya, nanti saya cek ya, asal negaranya dari mana saja, nanti saya cek dahulu,” kata Bahlil ditemui di sela kegiatan Energi Mineral Forum di Jakarta, Senin (26/5/2025).
(dov/wdh)































