Untuk tahun 2025, JP Morgan memproyeksikan pendapatan TLKM mencapai Rp158,3 triliun dan laba bersih Rp27,2 triliun. Namun, margin laba bersih diperkirakan tetap di kisaran 17%, lebih rendah dari era sebelumnya yang mencapai 18 hingga 20%.
Return on equity (ROE) Telkom juga terus menyusut, dari 16,3% pada 2024 menjadi 15,7% di 2025 dan 15,5% di 2026. Sementara rasio pembayaran dividen TLKM sebesar 60%, diperkirakan menghasilkan dividend yield 4,1% untuk tahun buku 2025. Yield ini cenderung stagnan di kisaran 4,3% pada 2026 dan 4,5% di 2027.
JP Morgan menegaskan rekomendasi “Neutral” untuk saham TLKM. Menurut analis, kontribusi sektor digital dan data center belum cukup kuat untuk menutup pelemahan dari segmen legacy seperti Telkomsel.
Secara valuasi, saham TLKM diperdagangkan pada P/E ratio 13,8x, mendekati rata-rata historis lima tahun sebesar 14 kali, dengan potensi re-rating yang terbatas.
Bukan hanya JP Morgan, broker lokal seperti Sucor Sekuritas juga mengubah pandangannya terhadap saham TLKM.
Sucor Sekuritas menurunkan rekomendasinya terhadap saham TLKM menjadi hold dari sebelumnya buy. Target harga terbaru ada di level Rp3.000/saham.
Meski demikian, konsensus analis dalam survei Bloomberg masih memasang sikap bullish, tercermin dari 31 analis yang merekomendasikan buy.
Hanya ada 10 analis yang merekomendasikan hold saham TLKM tanpa ada satu pun analis yang merekomendasikan sell. Target harga saham TLKM untuk 12 bulan ke depan ada di level Rp3.234/saham.
(dhf)






























