Kemajuan dalam kesepakatan ini sebagian besar terhambat karena hubungan dagang AS-China terguncang oleh ketegangan yang lebih luas dalam negosiasi perdagangan. Kedua belah pihak saling menuduh melanggar kesepakatan di Jenewa pada Mei lalu untuk menurunkan tarif yang memberatkan.
Dalam pembicaraan lanjutan di London bulan ini, kedua negara berupaya meredakan konfrontasi, terutama terkait akses terhadap teknologi mutakhir dan mineral tanah jarang.
Perpanjangan terbaru dari Trump, yang sebelumnya dilaporkan oleh Wall Street Journal, akan dilakukan melalui perintah eksekutif dan memberikan ByteDance tambahan waktu tiga bulan untuk menjual operasional TikTok di AS, melewati tenggat waktu terakhir pada 19 Juni.
Berdasarkan undang-undang yang ditandatangani oleh Presiden Joe Biden saat itu tahun lalu, ByteDance diperintahkan untuk melepaskan unit TikTok di AS paling lambat 19 Januari. Namun, perusahaan tersebut menolak untuk menjual bisnis yang sangat menguntungkan itu, yang nilainya diperkirakan berkisar antara US$20 miliar hingga US$150 miliar tergantung pada syarat dan teknologi yang disertakan.
Trump pertama kali memperpanjang tenggat waktu itu tak lama setelah menjabat pada Januari, dan kembali memperpanjangnya pada April. Langkah terbaru Trump kemungkinan akan memicu pertanyaan tentang legalitasnya.
Menurut undang-undang tersebut, presiden hanya dapat memberikan penundaan satu kali selama maksimal 90 hari jika terdapat “kemajuan signifikan” dalam mencapai kesepakatan.
Ketika memperpanjang tenggat waktu pada April, Trump mengatakan bahwa kesepakatan pada dasarnya sudah siap, tetapi mengklaim bahwa China mengubah pendiriannya karena perang tarif antara kedua negara, yang menyebabkan presiden memberlakukan bea masuk tinggi atas impor dari China dan memicu balasan dari Beijing. Belum jelas apakah anggota parlemen dari salah satu partai di Washington akan muncul untuk menentang perpanjangan terbaru ini.
Pemerintahan telah menerima beberapa penawaran untuk membeli aset TikTok di AS, termasuk dari konsorsium investor yang mencakup Oracle Corp, Blackstone Inc., dan perusahaan modal ventura raksasa Andreessen Horowitz, yang muncul sebagai kandidat terkuat.
Kesepakatan potensial tersebut akan memberikan investor luar yang baru 50% kepemilikan atas bisnis TikTok di AS dalam sebuah unit yang akan dipisahkan dari ByteDance. Investor AS yang sudah ada di ByteDance juga akan memiliki sekitar 30% dari bisnis tersebut, sehingga kepemilikan perusahaan China itu akan berkurang menjadi di bawah 20%, memungkinkan mereka memenuhi persyaratan kepemilikan berdasarkan undang-undang keamanan AS.
Oracle akan mengambil saham minoritas dalam operasional tersebut dan memberikan jaminan keamanan atas data pengguna.
Usulan itu juga akan membiarkan algoritma aplikasi tetap berada di bawah kendali pihak Tiongkok, menghilangkan potensi hambatan untuk mendapatkan persetujuan dari perusahaan maupun otoritas di Beijing. Namun, hal ini membuka potensi tantangan dari pihak-pihak yang anti-China di Kongres, yang khawatir bahwa kesepakatan semacam itu akan memberikan akses berlebihan kepada Beijing terhadap data warga AS dan dapat melanggar ketentuan dalam undang-undang yang mewajibkan perangkat lunak dihapus dari kontrol China.
Pemerintahan Trump hampir mencapai kesepakatan yang melibatkan Oracle sebelum tenggat waktu sebelumnya pada 5 April, tetapi China menahan persetujuannya setelah Presiden AS memutuskan untuk memberlakukan tarif besar-besaran.
(bbn)






























