Penampakan tersebut kemungkinan merupakan pertama kalinya salah satu dari tiga kapal induk China terlihat beroperasi di sebelah timur gugusan pulau kedua, serangkaian pulau yang membentang dari Jepang, melalui Kepulauan Mariana Utara, dan selatan hingga Guam.
Gugusan pulau kedua dan gugusan pulau pertama, yang lebih dekat ke China dan mencakup Kepulauan Ryuku di selatan Jepang dan Filipina, membatasi akses China ke Samudra Pasifik bagian barat.
Pangkalan militer AS, Jepang, dan lainnya berada di sepanjang kedua gugusan pulau tersebut.
Jika terjadi konflik di Pasifik Barat yang melibatkan AS, seperti kemungkinan keterlibatan militer di Taiwan, China dapat menghadapi risiko dari pasukan AS yang dikerahkan dari pangkalan besar Amerika di Hawaii.
Kemampuan untuk beroperasi di sebelah timur gugusan pulau kedua dapat membantu angkatan laut China melawan pengerahan semacam itu.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian mengatakan pada Senin bahwa "aktivitas kapal angkatan laut di perairan yang relevan sepenuhnya konsisten dengan hukum internasional dan praktik internasional."
"Kami berharap Jepang akan melihat aktivitas ini secara objektif dan rasional," tambahnya dalam jumpa pers rutin.
Komando Indo-Pasifik AS tidak menanggapi permintaan komentar.
Liaoning, kapal Rusia yang dibangun kembali, adalah kapal induk tertua milik China. Dalam beberapa hari terakhir, kapal ini telah berlayar dengan kapal-kapal pendamping di sekitar Pasifik Barat, termasuk penampakan langka di sebelah timur Filipina, menurut Kepala Staf Gabungan Jepang.
Wang Yunfei, seorang pakar urusan militer China, mengatakan kepada Global Times milik Pemerintah China minggu lalu bahwa Liaoning sedang melakukan kegiatan pelatihan normal.
Wang mengatakan kapal induk China diharapkan dapat memasuki lebih jauh wilayah laut dalam pada masa mendatang, menurut laporan tersebut.
(bbn)






























