Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir sebelumnya mensinyalir Indonesia berpotensi terlibat dalam investasi di proyek migas di AS.
Hal ini merupakan bagian dalam upaya negosiasi untuk meredam dampak tarif timbal-balik sebesar 32% yang digalakkan Presiden Donald Trump demi menyeimbangkan neraca perdagangan Negeri Paman Sam dengan mitranya, termasuk Indonesia.
Erick menjelaskan Trump menginginkan adanya investasi yang masuk dari luar negeri untuk pembukaan lapangan kerja di AS.
“Mereka rupanya juga ternyata sekarang perlu investasi. Kalau kita lihat juga roadshow [Trump] ke negara-negara [Teluk], tidak lain AS menginginkan investasi. Nah, mereka juga melihat, bisa enggak ada investasi yang dari Indonesia ke Amerika,” ujarnya dalam rapat bersama Komisi VI DPR RI, Selasa (20/5/2025).
Atas permintaan AS tersebut, Erick mengatakan pemerintah lantas mengkaji beberapa peluang sektor yang dapat dijajaki oleh Indonesia.
Salah satu yang dilirik adalah kemungkinan Indonesia untuk berinvestasi di sektor migas AS, lantaran RI sendiri juga tengah membutuhkan tambahan pasokan minyak untuk kebutuhan di dalam negeri.
“Karena kan salah satu yang kita coba terus dorong adalah produksi minyak di dalam negeri terus ditingkatkan. Akan tetapi, secara bersamaan, [pemerintah juga menimbang] investasi seperti apa yang ada kesempatannya di luar negeri, di AS khususnya,” kata Erick.
Dia pun mengindikasikan Indonesia tidak akan kesulitan memenuhi peluang tersebut lantaran perusahaan-perusahaan nasional sudah memiliki banyak portofolio investasi di beberapa negara lain.
(wdh)



























