Diketahui, Amerika masih membidik beberapa sektor tertentu sebagai upaya tetap memperkuat struktur perekonomian dalam negeri. Pembacaan situasi yang mengarah bahwa penguatan bidang industri manufaktur masih menjadi poin penting pemerintahan federal.
Pada sisi moneter, di belahan bumi lain, China telah menurunkan suku bunga 10 bps, sehingga menurunkan rasio cadangan wajib (reserve requirement ratio/RRR) 50 bps. Hal ini menandakan pemerintahan partai komunis China “ingin buat stimulus moneter karena tekanan tarif Amerika Serikat mengancam pelemahan ekonomi, maka counter siklikal turunkan suku bunga dan reserve ratio,” ucap Sri Mulyani.
Di Indonesia, BI juga menerapkan strategi penurunan tingkat bunga menjadi 5,5% yang menurut Sri Mulyani adalah sinyal pemangku kepentingan moneter domestik tetap berfokus pada stabilisasi inflasi di kisaran rendah seraya menjaga nilai tukar.
“BI dalam hal ini memberikan sinyal stabilisasi inflasi rendah, nilai tukar terjaga, dan fokus ingin mendukung agar pertumbuhan ekonomi di Indonesia bisa meningkat karena penurunan suku bunga.”
(dov/wep)


























