Logo Bloomberg Technoz

6 Alasan Ekonomi RI Kuat Versi Kementerian Keuangan

Dovana Hasiana
19 May 2025 08:12

Kementerian Keuangan RI Direktorat Jendral Pajak. (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)
Kementerian Keuangan RI Direktorat Jendral Pajak. (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kementerian Keuangan mengatakan Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang relatif kuat dan stabil, terutama didorong populasi yang besar dan pasar domestik yang kuat.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu Deni Surjantoro mengatakan populasi yang besar dan pasar domestik yang kuat dapat membantu mengurangi ketergantungan pada ekspor dan memberikan penyangga terhadap guncangan ekonomi eksternal.

"Konsumsi domestik memiliki peran yang sangat penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia," ujar Deni kepada Bloomberg Technoz, dikutip Senin (19/5/2025).


Sekadar catatan, pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah 4,87% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I-2025. Konsumsi rumah tangga menjadi kontributor utama yakni sebesar 54,53%, sementara ekspor adalah 22,3%.

Kedua, Deni mengatakan, ekonomi yang relatif terdiversifikasi, dengan sektor-sektor seperti pertanian, manufaktur, dan jasa yang berkontribusi pada produk domestik bruto (PDB). Diversifikasi ini dapat membantu mengurangi dampak negatif dari penurunan permintaan di sektor tertentu.

Pada kuartal I-2025, terdapat lima lapangan usaha dengan kontribusi terbesar terhadap ekonomi, yakni industri pengolahan, perdagangan, pertanian dan konstruksi yang menujukkan pertumbuhan positif.

Ketiga, inflasi yang terkendali dan utang pemerintah yang relatif rendah. Stabilitas kedua hal ini dinilai dapat membantu Indonesia menghadapi guncangan ekonomi eksternal.

Indeks harga konsumen (IHK) mengalami inflasi 1,95% (yoy) menjadi yang tertinggi sejak Agustus 2024 lalu. Namun, angka ini masih berada dalam kisaran sasaran pemerintah sebesar 2,5% plus minus satu persen.

Keempat, Deni melanjutkan, sumber daya alam yang kaya termasuk mineral, energi, dan produk pertanian. Sumber daya ini dapat memberikan sumber pendapatan yang stabil dan membantu mendukung pertumbuhan ekonomi.

Adapun, lapangan usaha pertanian tumbuh 10,52% (yoy) dengan kontribusi terhadap PDB adalah 12,66% pada kuartal I-2025. Sementara, pertambangan kontraksi -1,23% (yoy) dengan kontribusi 8,99%.

"[Kelima,] rating surat utang Indonesia yang masih bertahan di investment grade menjadi salah satu cerminan yang fair atas kondisi dan stabilitas perekonomian Indonesia dari perspektif pihak yang independen," ujarnya.

Lembaga pemeringkat global Moody's Investor Service, menetapkan peringkat kredit atau sovereign credit rating (SCR) Indonesia pada level Baa2 dengan outlook stabil.

Keenam, Deni mengatakan, perkembangan terbaru pasar tenaga kerja menujukkan bahwa penciptaan lapangan kerja signifikan adalah untuk pekerja dengan status buruh/karyawan/pegawai. Menurutnya, hal ini mengindikasikan bahwa sentimen dunia usaha memandang secara positif prospek ekonomi nasional ke depan/jangka menengah/pendek.

Kajian terbaru yang dirilis oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia menilai beberapa indikator penting yang menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia menunjukkan adanya pelemahan dari mulai konsumsi rumah tangga, manufaktur juga pasar tenaga kerja.

Hasil kajian mendapati, berdasarkan data terbaru 2024, terlihat bahwa terjadi tren kerentanan kelas ekonomi di Indonesia. Jumlah penduduk miskin memang turun jadi 9%. Namun, kelompok rentan miskin di negeri ini justru naik jadi 24,2%. Kelas menengah bahkan susut tinggal 17,1%, terlempar lagi ke level tahun 2017.

Para akademisi mendapati, pelemahan tersebut bukan semata-mata akibat disrupsi struktural dari pandemi COVID-19 karena kontraksi sudah mulai terjadi sejak 2018.

Sektor informal yang masih terus mendominasi struktur ketenagakerjaan, mencapai 57,95% pada tahun 2024, juga mengindikasikan kondisi fundamental yang kurang baik. Proporsi pekerja informal masih belum berhasil kembali ke level sebelum pandemi.

Bersamaan dengan itu, peningkatan tenaga kerja di sektor bernilai tambah rendah, berkontribusi pada penurunan produktivitas dalam tiga tahun terakhir. 

Sektor manufaktur Indonesia mengalami tren penyusutan yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Setelah pangsanya terhadap PDB menyentuh 27,81% pada 2008, angkanya terus menyusut sampai pada 2023 lalu tinggal 18,67%.

"Proses deindustrialisasi telah melemahkan fundamental ekonomi Indonesia, menggeser struktur ekspor Indonesia ke arah barang-barang berbasis komoditas dengan harga tinggi, dan mengurangi kapasitasnya untuk menciptakan lapangan kerja formal," kata tim ekonom.

Terakhir, Indonesia pernah mencatat rata-rata Incremental Capital Output Ratio (ICOR) sebesar 4,3 pada periode 2005-2009. Namun, sejak 2010, ICOR kembali naik di kisaran 5,0 hingga 2014 dan pada periode 2015-2019 angkanya jadi 6,8. Usai pandemi, rasio ICOR ada di 6,4 hingga data 2023, masih cukup tinggi.

Meskipun Indonesia saat ini tidak berada dalam krisis, ICOR yang terus-menerus tinggi yang diperparah tren kenaikan beberapa tahun terakhir, menurut ekonom, menunjukkan bahwa pembentukan modal baru-baru ini tidak menghasilkan peningkatan output yang proporsional.