Logo Bloomberg Technoz

Trump menegaskan bahwa pesawat tersebut tidak akan digunakan olehnya setelah ia lengser dari jabatan, dan membela keputusan pemerintahannya dalam mempertimbangkan tawaran itu. Ia menyebut bahwa menolak hadiah itu adalah tindakan yang tidak bijak.

“Boeing 747 ini diberikan kepada Angkatan Udara Amerika Serikat/Departemen Pertahanan, BUKAN KEPADA SAYA! Ini adalah hadiah dari sebuah negara, Qatar, yang telah kita lindungi dengan sukses selama bertahun-tahun,” tulis Trump.

“Mengapa militer kita, dan berarti juga para pembayar pajak kita, harus membayar ratusan juta dolar jika bisa mendapatkannya secara GRATIS dari negara yang ingin memberi penghargaan atas kerja kita yang luar biasa?” tambahnya. “Penghematan besar ini akan digunakan untuk MEMBESARKAN AMERIKA LAGI! Hanya ORANG BODOH yang tidak menerima hadiah ini atas nama Negara kita.”

Trump diketahui semakin frustrasi dengan Boeing karena keterlambatan pengiriman pesawat Air Force One baru.

Pada masa jabatan pertamanya, Trump mengarahkan Pentagon untuk mengalokasikan dana sebesar US$3,9 miliar guna membeli dua unit Boeing 747-8 sebagai pengganti pesawat kepresidenan lama. Namun, pengembangan pesawat-pesawat ini mengalami berbagai kendala teknis. Meski demikian, Boeing telah berupaya mempercepat target penyelesaian, dan berjanji pesawat bisa beroperasi pada 2027—sebelum masa jabatan kedua Trump berakhir.

Jet dari Qatar itu sendiri dilengkapi dengan fasilitas mewah, dan Trump disebut telah meninjau langsung pesawat tersebut beberapa pekan lalu ketika mendarat di West Palm Beach. Pesawat itu dibuat pada tahun 2012 dan awalnya diserahkan kepada Qatar Amiri Flight, yang mengelola armada udara keluarga kerajaan Qatar. Namun belakangan, pesawat ini dioperasikan oleh perusahaan lain, menurut Cirium Ascend Consultancy.

(bbn)

No more pages