Pembicaraan tidak langsung antara kedua negara itu terakhir kali dilakukan melalui mediasi Turki pada tahun 2008, tetapi gagal mencapai kesepakatan damai.
Sejak pekan lalu, Israel menyerang sejumlah target di Suriah menyusul bentrokan antara militan Sunni pro-pemerintah dan kelompok minoritas Druze di sekitar Damaskus. Serangan tersebut dilancarkan setelah ada permintaan dari komunitas Druze di Suriah dan Israel.
Al-Sharaa mengatakan Israel menyerang Suriah lebih dari 20 kali dalam sepekan terakhir, yang menewaskan empat orang "dengan dalih melindungi kaum minoritas."
Sebelum rezim al-Assad jatuh, serangan udara Israel ke Suriah merupakan hal yang rutin terjadi. Serangan udara tersebut sebagian besar mengenai target Iran di negara yang menjadi proksi Teheran tersebut.
Macron mendesak Al-Sharaa "melakukan segala yang dia bisa untuk memastikan seluruh warga Suriah terlindungi tanpa kecuali, apa pun asal usul, agama, denominasi, atau pendapat mereka."
Menurut Pusat Media dan Kebebasan Berekspresi Suriah yang berbasis di Paris, ratusan warga sipil Alawite—berasal dari sekte minoritas yang sama dengan mantan pemimpin al-Assad dan pernah mendominasi Suriah, dieksekusi pada Maret oleh pasukan setia Al-Sharaa. Al-Sharaa merupakan Muslim Sunni, seperti mayoritas warga Suriah.
Kekerasan itu membayangi Al-Sharaa, yang sudah meyakinkan para pejabat internasional bahwa kaum minoritas di negaranya akan dilindungi setelah ia naik ke tampuk kekuasaan. Dia pernah menjadi komandan kelompok yang berafiliasi dengan Al-Qaeda dan memimpin upaya penggulingan pemimpin Suriah yang lama berkuasa, Bashar al-Assad.
Serangan terhadap warga sipil juga kemungkinan besar akan merusak upaya Al-Sharaa agar AS mencabut sanksi, yang membuat Qatar dan negara-negara Teluk lainnya enggan mendanai rekonstruksi Suriah setelah dilanda perang saudara selama bertahun-tahun.
Macron juga meminta AS untuk "mempertahankan" operasi militernya terhadap kelompok ISIS di negara itu. Dia mengatakan, demi kepentingan semua pihak, AS harus "sebisa mungkin menunda penarikan pasukannya dari Suriah."
(bbn)































