Israel mengklaim bahwa memindahkan warga sipil ke sana akan membawa mereka keluar dari zona pertempuran di utara dan memastikan bantuan sampai di tangan mereka, bukan para pejuang Hamas.
Israel melarang masuk bantuan pada awal Maret, dengan dalih bahwa hal itu diperlukan untuk memaksa Hamas menyerah dan membebaskan para sandera yang masih mereka tahan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam tindakan tersebut dan menilai hal itu akan memperburuk kekurangan makanan, air, dan obat-obatan yang dialami warga Palestina. Israel mengklaim ada cukup bantuan untuk setidaknya dua minggu ke depan.
Keputusan kabinet tersebut muncul seminggu sebelum Presiden AS Donald Trump mengunjungi Teluk, yang merupakan kunjungan luar negeri pertamanya yang dijadwalkan sejak ia kembali berkuasa pada Januari.
Trump—yang akan menyambangi Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab mulai 13 Mei—pada akhir April lalu mendesak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk memasukkan lebih banyak makanan dan obat-obatan ke Gaza.
Pada Senin, Trump mengatakan bahwa kurangnya bantuan disebabkan oleh Hamas yang mencegat pasokan, bukan karena blokade Israel.
"Orang-orang kelaparan, dan kami akan membantu mereka mendapatkan makanan," katanya, berbicara kepada para wartawan di Ruang Oval. "Hamas membuatnya mustahil karena mereka mengambil semua yang dibawa masuk."
Manuver militer yang direncanakan Israel akan membutuhkan "puluhan ribu tentara cadangan," kata Eyal Zamir, Kepala Militer Israel, Minggu. Ini bisa memakan waktu hingga dua minggu, sehingga pertempuran mungkin tidak akan meningkat secara signifikan hingga kunjungan Trump selesai.
Menurut pejabat keamanan Israel, durasi tersebut memberi Israel kesempatan untuk menekan Hamas agar menyetujui gencatan senjata yang mencangkup pertukaran sandera-tahanan sebelum akhir perjalanan Trump. Jika tidak ada kesepakatan pada saat itu, rencana militer akan dilanjutkan.
Para pejabat menyebut operasi darat mungkin akan memungkinkan Israel mengambil alih wilayah tambahan di luar sekitar sepertiga Gaza yang telah dikuasainya.
Israel baru-baru ini mengubah strategi dan kini menempatkan pasukannya di wilayah-wilayah yang bersih dari para pejuang Hamas. Sebelumnya, Israel menarik pasukannya, yang sering kali membuat Hamas berkumpul kembali.
Sejak mengakhiri gencatan senjata pada pertengahan Maret, Israel berulang kali mengancam akan mengintensifkan operasi mereka hingga Hamas setuju meletakkan senjata dan membebaskan sisa 59 sandera, di mana menurut intelijen Israel, hanya sekitar 24 orang di antaranya yang masih hidup.
Axios melaporkan pada Minggu bahwa meski Trump tidak dijadwalkan ke Israel, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth akan mengunjungi negara Yahudi itu awal minggu depan untuk bertemu Netanyahu.
Kunjungan Hegseth dan komentar Trump tentang Gaza bisa menandakan fokus baru AS pada wilayah Mediterania setelah beberapa minggu perhatian Gedung Putih fokus pada negosiasi tarif, perundingan nuklir dengan Iran, dan mengakhiri perang Rusia di Ukraina.
Belum ada kejelasan apakah Trump akan mendorong gencatan senjata baru di Gaza. Namun, langkah seperti itu akan sejalan dengan tujuannya untuk menstabilkan Timur Tengah. Trump mengaku berjasa atas gencatan senjata yang berlangsung dari pertengahan Januari hingga Maret. Qatar, tujuan Trump setelah Arab Saudi, merupakan mediator utama antara Hamas dan Israel.
Namun, perbedaan pendapat antara Israel dan Hamas—yang ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh AS dan banyak negara lain—masih besar.
Pembicaraan gencatan senjata telah terhenti selama berminggu-minggu, di mana Hamas menolak membahas pembebasan sandera lebih lanjut kecuali jika Israel setuju mengakhiri perang dan menarik pasukannya keluar dari Gaza.
Hamas memicu konflik setelah menyerang Israel selatan pada 7 Oktober 2023, menewaskan 1.200 orang dan menyandera 250 orang. Sementara itu, menurut Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas di Gaza, lebih dari 51.000 orang telah terbunuh akibat agresi Israel.
(bbn)
































