Selain itu, dia meminta agar pemerintah membuat kebijakan untuk mendorong pembiayaan seseorang yang ingin melakukan stem cell.
“Biaya itu dibantu oleh pemerintah, gitu. Bukan dokternya yang di-discount-discount,” tegasnya.
“Biaya medis-dokternya yang begini, tenaga medisnya yang ini. Ini orang udah mendedikasikan dirinya untuk meneliti, menemukan hal baru, terus tidak dihargai, itu diminta diskon-diskon, ya. Dibayar cuma air putih doang? Jangan."
Ia pun juga mengatakan untuk tidak mempermasalakan harga stem cell yang begitu mahal. Sebab, dibelakang perencanaan terapi ini memiliki sejumlah penelitian yang telah melakukan inovasi untuk menciptakan sel punca.
“Dokter-dokter, ya, perawat rumah sakit, ya, yang sudah melakukan penelitian dan membuat inovasi-inovasi yang luar bias itu harus dihargai. Biaya operasi kita di Indonesia ini dengan negara-negara Asia-Pasifik, ya, itu jauh-jauh lebih murah, ya. Di Korea bisa Rp200 juta, di Indonesia bisa dimulai Rp 400 juta- Rp500 juta.
Stem cell di Indonesia juga banyak membidangi sub spesialis kedokternya Indonesia. Setelah Stem Cell Orthophedi RSUI, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) juga menyediakan stem cell bagian mata.
“Di RSCM banyak menyediakan stem cell sub spesialis dokter, salah satunya pada bagian mata,”.
“Sebenarnya banyak bagian lainnya, cuman memang belum terangkat informasinya ke masyarakat,”.
(dec/spt)































