Terkait pengembangan Base Transceiver Station (BTS), Nezar menjelaskan, pembangunan BTS memerlukan waktu untuk pemetaan dan penyusunan anggaran. Saat ini, anggaran BTS lebih banyak dialokasikan untuk pemeliharaan infrastruktur yang sudah ada.
Adapun untuk wilayah non-3T (terdepan, terluar, dan tertinggal), Komdigi akan berkoordinasi dengan operator seluler untuk perluasan jaringan.
"Nanti kita akan minta ke Indosat, Telkomsel, atau ini yang baru merger XL Smart. Saya kira XL Smart mungkin akan ambil itu, karena dia kan mau memperluas jangkauan. Kita bisa bersurat dengan mereka untuk membangun BTS-BTS di daerah yang komersial tapi masih blank spot," tuturnya.
Sementara itu, Bupati Aceh Barat Tarmizi mengungkapkan lima dari total 12 kecamatan di daerahnya masih mengalami blank spot. Ia juga menyoroti seringnya gangguan sinyal yang terjadi bersamaan dengan pemadaman listrik.
Oleh karena itu, ia pun berharap Komdigi dapat memberikan dukungan nyata untuk mengatasi permasalahan tersebut.
"Pada saat listrik padam, masa sinyalnya juga ikut padam bersamaan. Dan di sana dalam satu hari, pasti 2 sampai 5 kali mati lampu, kemudian sinyalnya hilang. Ini yang menjadi kendala," kata Tarmizi.
Kerjasama Infrastruktur Satria-2 dengan Inggris
Sebelumnya pada akhir Januari lalu, Wamen Komdigi Nezar juga mengumumkan adanya kemitraan strategis dengan Kementerian Luar Negeri Parlemen Indo-Pasifik Inggris, di mana kerjasama ini mencakup bidang transformasi digital, termasuk investasi pada infrastruktur Satria-2.
"Kemitraan strategis dengan Wakil Menteri Luar Negeri Parlemen Indo-Pasifik Inggris untuk memperdalam kolaborasi di sejumlah bidang-bidang yang penting bagi masa depan kedua negara yang mencerminkan kerja sama yang langgeng dan komitmen bersama kita untuk memajukan kepentingan bersama," kata Nezar usai menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Wakil Menteri Luar Negeri Parlemen Indo-Pasifik Inggris Catherine West dikutip Rabu (22/1/2025).
"Satelit Satria-2 direncanakan sebagai satelit kembar dengan kapasitas 300 Gbps, memerlukan perkiraan investasi konstruksi sekitar US$860 juta."
Sekadar catatan, Satelit (Satria)-2 adalah proyek strategis yang dirancang untuk meningkatkan kualitas layanan internet di seluruh Indonesia. Berbeda dengan pendahulunya, Satria-1, yang memiliki kapasitas 150 Gbps, Satria-2 direncanakan sebagai satelit kembar atau "twin satellite" dengan total kapasitas 300 Gbps.
Proyek ini telah masuk dalam Daftar Rencana Prioritas Pinjaman Luar Negeri 2024 (Green Book) sesuai dengan Keputusan Kepala Bappenas nomor Kep.25/M.PPN/HK/04/2024. Proses pengadaan direncanakan akan dimulai paling lambat pada tahun 2025, dengan mempertimbangkan tahapan pinjaman luar negeri yang berbeda dengan pendanaan APBN.
Nezar menegaskan bahwa kolaborasi ini mendukung Visi Indonesia Digital (VID) 2045, yang bertujuan menciptakan ekonomi digital yang dinamis dan masyarakat digital yang berdaya.
(ell)































