Presiden Lebanon, Joseph Aoun, mendesak Amerika Serikat dan Prancis — sebagai mediator dalam kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada November — untuk "memaksa Israel segera menghentikan agresinya," seraya memperingatkan risiko meningkatnya ketegangan regional. Sementara itu, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan bahwa infrastruktur penyimpanan rudal yang menjadi sasaran merupakan "pelanggaran terang-terangan terhadap kesepahaman antara Israel dan Lebanon."
Koordinator Khusus PBB untuk Lebanon, Jeanine Hennis-Plasschaert, melalui unggahan di platform X, mengatakan: “Kami mendesak semua pihak untuk menghentikan tindakan apa pun yang dapat semakin merusak kesepahaman penghentian permusuhan.”
Pada 1 April lalu, IDF juga melakukan serangan udara yang menewaskan empat orang di pinggiran selatan Beirut saat menargetkan seorang anggota operatif Hizbullah. Pada akhir Maret, Israel menyerang fasilitas penyimpanan drone milik milisi Lebanon di wilayah yang sama, yang menjadi serangan pertama di daerah tersebut sejak gencatan senjata berlaku.
Hizbullah mulai menyerang Israel dengan drone dan rudal pada 8 Oktober 2023, sebagai bentuk solidaritas terhadap kelompok Palestina, Hamas, sehari setelah serangan Hamas ke wilayah Israel. Israel kemudian membalas dengan menggempur posisi-posisi Hizbullah, terutama di Lebanon selatan, di mana milisi tersebut memiliki kekuatan besar.
Konflik ini sebagian besar dapat dikendalikan setelah Israel berhasil membunuh sebagian besar pemimpin senior Hizbullah, termasuk pemimpin lamanya, Hassan Nasrallah.
Serangan terbaru di kawasan Beirut ini merupakan bagian dari operasi militer Israel yang kembali meningkat di berbagai garis depan, setelah periode ketenangan relatif awal tahun ini. Pasukan Israel juga kembali melancarkan serangan darat dan udara di Gaza usai runtuhnya gencatan senjata dengan Hamas, serta secara rutin menggempur sasaran di Suriah.
(bbn)
































