Saham-saham global menguat selama tiga hari berturut-turut karena optimisme Gedung Putih, yang akan mencapai kesepakatan perdagangan penting dengan mitra-mitra ekonomi utama, meningkatkan minat risiko.
Komentar dari pejabat The Fed, yang mengatakan mereka akan mendukung penurunan suku bunga jika bank sentral mengumpulkan bukti yang jelas mengenai arah ekonomi, juga mendorong sentimen.
"Meski The Fed mempertahankan pendekatan yang hati-hati terhadap pelonggaran moneter, kami yakin bank sentral akan bersedia dan mampu merespons tanda-tanda pelemahan ekonomi, terutama meningkatnya PHK," kata Ulrike Hoffmann-Burchardi, kepala investasi untuk saham global di UBS Global Wealth Management.
Dalam wawancara di Bloomberg Television, Deputi Gubernur The Fed Christopher Waller mengatakan akan mendukung pemotongan suku bunga jika tarif agresif merugikan pasar tenaga kerja.
Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack mengatakan kepada CNBC bahwa bank sentral bisa menaikkan suku bunga paling cepat pada Juni jika memiliki bukti yang jelas tentang arah ekonomi.
Menteri Keuangan Scott Bessent memaparkan AS dan Korea Selatan mungkin mencapai "kesepakatan kesepahaman" tentang perdagangan secepatnya minggu depan, menyusul pembicaraan antara kedua negara. Ini terjadi setelah AS membuat "kemajuan signifikan" menuju kesepakatan perdagangan bilateral dengan India.
Sementara itu, Presiden Donald Trump mengatakan pemerintahannya sedang berbicara dengan China mengenai perdagangan, setelah Beijing menyangkal adanya negosiasi mengenai kesepakatan dan menuntut AS mencabut semua tarif sepihak.
"Mereka mengadakan pertemuan pagi ini," kata Trump pada Kamis. "Tidak masalah siapa 'mereka.' Kami mungkin akan mengungkapkannya nanti, tetapi mereka mengadakan pertemuan pagi ini, dan kami telah bertemu dengan China."
Myles Bradshaw dari JPMorgan Asset Management menjelaskan kepada Bloomberg Television, ketidakpastian kebijakan perdagangan pemerintahan Trump menyulitkan dunia korporat memperkirakan bagaimana tahun ini akan berjalan. Tarif Trump cenderung lebih merugikan pertumbuhan daripada memacu inflasi.
Dia memperkirakan bank sentral AS pada akhirnya akan perlu memangkas suku bunga secara lebih agresif, setelah menahan kebijakannya lebih lama.
Namun, beberapa analis mulai tidak yakin dengan prospek laba karena risiko perlambatan ekonomi, di mana revisi laba acuan AS—atau estimasi peningkatan versus penurunan—mendekati titik ekstrem.
Salah satu sentimen positif terbesar di Wall Street ialah kenaikan tarif yang paling memukul perusahaan-perusahaan AS. Bankim Chadha dari Deutsche Bank AG memangkas target S&P 500 akhir tahun menjadi 6.150. Dia juga memprediksi laba S&P 500 akan turun 5% tahun ini, dibandingkan dengan konsensus yang memperkirakan pertumbuhan 8%.
"Investor harus terus fokus pada jangka panjang, dengan memperhatikan perusahaan-perusahaan dengan pencapaian laba yang tinggi, paparan tarif yang terbatas, dan neraca keuangan yang berkualitas," ujar Daniel Skelly, Kepala Tim Riset & Strategi Pasar Manajemen Kekayaan Morgan Stanley.
(bbn)






























