Menurut Bahlil, Denmark memiliki peluang untuk ikut berinvestasi pada sektor energi baru terbarukan dan konversi energi di Indonesia.
Dia menjelaskan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 energi baru terbarukan mendapatkan porsi sebesar 60% seperti angin, air, hingga matahari.
“Saya pikir semua negara kita harus undang, itu konsekuensi,” ucap Bahlil.
Sementara itu, Rasmussen menilai bahwa kerja sama yang telah terjalin cukup erat selama 10 tahun ini membuka jalan bagi kemitraan strategis yang komprehensif bagi kedua negara.
"Hal itu sebenarnya membuka jalan bagi kemitraan strategis yang komprehensif yang ditandatangani antara saya dan Presiden Indonesia pada tahun 2017, saat saya menjabat sebagai Perdana Menteri Denmark," kata dia.
Lebih lanjut, Rasmussen mengatakan bahwa pihaknya berkomitmen untuk melakukan banyak hal terkait kerja sama dengan Indonesia di masa yang akan datang, khususnya di sektor energi.
"Besok saya akan menandatangani rencana aksi baru, yang akan menetapkan target dan membuka jalan bagi kerja sama lima tahun ke depan,” tuturnya.
Memorandum Saling Pengertian (MSP) antara pelaku sektor swasta dari kedua negara, tidak hanya menjadi langkah signifikan menuju transisi energi Indonesia, tetapi juga memperkuat posisi Denmark dalam transisi hijau.
3 MSP Yang Diteken :
- MSP antara PLN Indonesia Power dan Vestas tentang Kerja Sama Studi Bersama untuk Menjajaki Potensi Peluang Pengembangan dalam Memenuhi Permintaan Listrik Hijau di Indonesia.
- MSP antara PLN Nusantara Power dan Vestas tentang Kerja Sama Studi Bersama untuk Menjajaki Potensi Pengembangan Proyek Pembangkit Listrik Energi Terbarukan di Indonesia.
- MSP antara PLN Indonesia Power dan Saltfoss Energy tentang Kerja Sama Pengembangan Nuklir di Indonesia.
(mfd/naw)































