Logo Bloomberg Technoz

Penjajakan Energi RI: Lebih Untung Gandeng Rusia, AS, atau Saudi?

Mis Fransiska Dewi
21 April 2025 09:40

Oil pumping jacks../Bloomberg- Andrey Rudakov
Oil pumping jacks../Bloomberg- Andrey Rudakov

Bloomberg Technoz, Jakarta – Praktisi industri migas Hadi Ismoyo berpendapat kerja sama pemerintah dengan sejumlah negara di sektor energi harus berakhir dengan langkah konkret dan tidak hanya berorientasi pada kerja sama bisnis.

Hal ini merespons aksi pemerintah yang dalam sepekan terakhir bertemu dengan perwakilan beberapa negara—mulai dari Rusia, Arab Saudi, hingga Amerika Serikat (AS) — untuk kerja sama, bahkan menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU), di bidang energi dan sumber daya mineral (ESDM).

Hadi, yang juga Direktur Utama PT Petrogas Jatim Utama Cendana (PJUC), menuturkan kerja sama energi kepada semua negara harus disambut dengan baik karena saling menguntungkan dari sisi teknologi maupun perdagangan. Menurut perhitungannya, ada lebih dari 20 kerja sama bidang energi dengan sejumlah negara.


“Hal yang penting bukan jumlah MoU-nya, tetapi setelah MoU itu apa langkah konkretnya, sehingga tidak menjadi 'macan kertas',” kata Hadi saat dihubungi, Senin (21/4/2025). 

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Menteri Industri dan Sumber Daya Mineral Arab Saudi, Bandar bin Ibrahim Al-Khorayef./dok. ESDM

Dari penjajakan yang baru-baru ini dilakukan pemerintah seperti dengan AS, Arab Saudi, dan Rusia; sulit bagi Hadi untuk menentukan negara mana yang paling menguntungkan bagi RI karena banyak keragaman maupun karakteristik bisnis migas dari ketiga negara tersebut.