Kunjungan Xi ke Malaysia menandai persinggahan keduanya di kawasan ini karena Beijing berusaha meningkatkan hubungan dengan negara-negara Asia Tenggara yang bergantung pada ekspor, yang terguncang oleh perang dagang Presiden Donald Trump yang semakin memanas.
Lawatan ini dilakukan saat berbagai negara mencoba untuk mencapai kesepakatan dengan Washington setelah Trump memukul mitra dagang AS dengan tarif "resiprokal," yang kemudian ditunda selama 90 hari. Malaysia, khususnya, tengah berupaya menurunkan tarif 24% dan mendapat beberapa pengecualian ekspor.
Berdasarkan unggahan di halaman Facebook resminya, Sultan Ibrahim mengaku yakin Malaysia dan China akan terus memperkuat kerja sama meski ada berbagai "kesenjangan geopolitik" di seluruh dunia.
"Ada potensi besar bagi perusahaan dan investor China untuk menjajaki peluang di sini karena hal ini sejalan dengan pentingnya konektivitas regional dan pembangunan berkualitas tinggi di bawah Inisiatif 'Belt and Road' China," ujarnya.
Xi mendarat di Malaysia pada Selasa malam setelah mengakhiri kunjungan dua hari ke Vietnam dan disambut oleh Perdana Menteri Anwar Ibrahim. Menjelang kedatangannya, pemimpin China ini mengatakan perjalanannya sebagai kesempatan untuk memperdalam hubungan bilateral dan memperkuat rasa saling percaya secara politik. Xi akan singgah ke Kamboja mulai Kamis (17/4/2025).
Lawatan regional Xi menggarisbawahi posisi sulit yang dihadapi negara-negara Asia Tenggara. Sejak Trump memberlakukan tarif tinggi terhadap China pada masa jabatan pertamanya, banyak dari negara-negara ini menjadi rute utama bagi ekspor China untuk mencapai AS.
Kini, Washington menekan mereka untuk memutus hubungan bisnis yang menguntungkan tersebut dengan mitra dagang terbesar mereka atau menghadapi tarif AS yang lebih besar.
Malaysia menganggap China dan AS sebagai mitra dagang terbesarnya, dan telah mempertahankan hubungan terbuka dengan kedua negara tersebut. Namun, sebagai negara yang bergantung pada perdagangan, Malaysia merasakan tekanan. Pemerintah sedang meninjau kembali perkiraan pertumbuhan untuk tahun ini karena perang dagang makin memanas.
Kunjungan kenegaraan terakhir Xi ke Malaysia ialah pada tahun 2013, saat kedua negara meningkatkan hubungan mereka menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif. Tahun lalu, mereka merayakan 50 tahun hubungan diplomatik kedua negara, menyoroti kerja sama yang telah terjalin selama puluhan tahun.
(bbn)





























