Bursa saham China sebagian besar tetap melemah menjelang rilis data ini. Indeks Hang Seng China Enterprises turun hingga 2,4%, sementara CSI 300 melemah hingga 0,8%.
Data tersebut mencerminkan kondisi sebelum Amerika Serikat menaikkan tarif secara drastis pada April, yang memicu eskalasi perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia tersbut. Tarif untuk sebagian besar barang China kini telah meningkat hingga setidaknya 145%—angka yang diperkirakan akan menyebabkan ekspor China menyusut tahun ini dan merusak salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi negara tersebut.
Meski merilis data yang positif, Biro Statistik Nasional tetap menyampaikan nada hati-hati, dengan menekankan perlunya dukungan yang lebih besar terhadap ekonomi.
“Kita harus menyadari bahwa lingkungan eksternal semakin kompleks dan berat, dorongan pertumbuhan dari permintaan domestik yang efektif masih kurang, dan fondasi pemulihan serta pertumbuhan ekonomi berkelanjutan belum kokoh,” demikian pernyataan NBS. “Kita harus menerapkan kebijakan makro yang lebih proaktif dan efektif.”
Nilai tukar yuan tetap stabil di angka 7,3236 di pasar luar negeri (offshore) setelah data dipublikasikan. Imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun tidak banyak berubah, tetap di level 1,64%.
Prospek yang memburuk untuk perdagangan global dan pertumbuhan ekonomi dunia juga diperkirakan akan menekan China.
Tanpa stimulus tambahan, China kemungkinan kesulitan untuk mencapai target pertumbuhan resmi sekitar 5% tahun ini. Dalam beberapa pekan terakhir, para ekonom dari sejumlah bank internasional seperti UBS Group AG, Goldman Sachs Group Inc, dan Citigroup Inc telah menurunkan proyeksi pertumbuhan China untuk tahun 2025 menjadi sekitar 4% atau bahkan lebih rendah.
Ekspektasi agar Beijing meluncurkan lebih banyak stimulus pun meningkat. Beberapa ekonom memperkirakan bank sentral China atau People's Bank of China (PBOC) akan memangkas suku bunga atau rasio cadangan wajib perbankan dalam waktu dekat, sementara lainnya memprediksi pemerintah akan menggelontorkan stimulus fiskal tambahan senilai triliunan yuan guna menutup kekosongan akibat penurunan ekspor.
Untuk meredam dampak tarif, China harus segera meningkatkan permintaan domestik, termasuk melalui dorongan konsumsi dan investasi. Pasar tenaga kerja yang lesu masih menjadi titik lemah utama yang menahan daya beli konsumen—bahkan sebelum tarif AS mulai mengancam lapangan kerja di sektor ekspor.
Dampak perang dagang diperkirakan akan mulai terlihat pada aktivitas ekonomi mulai April ini. Setelah lonjakan ekspor pada Maret, aktivitas perdagangan diyakini telah melambat tajam bulan ini karena perusahaan-perusahaan global mulai menunda pesanan dan menurunkan produksi.
Peluang tercapainya kesepakatan dagang antara AS dan China dalam waktu dekat pun tampak kecil. Beijing kini mengambil pendekatan yang lebih konfrontatif sebagai respons terhadap gelombang kenaikan tarif terbaru dari Washington.
(bbn)































