Trump telah lama menyuarakan kekhawatiran bahwa produksi cip dan obat-obatan di luar negeri merupakan ancaman bagi keamanan nasional, dan mengancam akan mengenakan tarif sebagai upaya untuk menghidupkan kembali industri manufaktur dalam negeri. Namun, kebijakan ini juga bisa mengganggu rantai pasok global dan meningkatkan biaya hidup warga Amerika.
Tarif baru ini berpotensi mengguncang industri semikonduktor global yang mencatat penjualan lebih dari US$600 miliar dan menjadi komponen vital dalam berbagai produk, mulai dari mobil hingga pesawat, ponsel, dan perangkat elektronik. Rantai pasok yang masih terganggu akibat pandemi Covid-19 juga bisa kembali terguncang akibat tarif tersebut.
Pengumuman ini datang beberapa hari setelah pemerintahan Trump mengecualikan impor semikonduktor, ponsel, komputer, dan elektronik lainnya dari tarif sebesar 145% yang diterapkan terhadap produk China. Keputusan itu sempat dianggap menguntungkan raksasa teknologi seperti Apple Inc dan Nvidia Corp, namun Trump dan para penasihatnya segera menegaskan bahwa keringanan itu hanya sementara, dan tarif khusus untuk cip tetap akan diberlakukan.
Penyelidikan semikonduktor oleh Departemen Perdagangan dirancang agar mencakup semua aspek, termasuk cip generasi lama maupun canggih yang dibutuhkan untuk aplikasi kecerdasan buatan. Penyelidikan ini juga melibatkan peralatan manufaktur semikonduktor serta produk elektronik yang mengandung komponen tersebut.
Tarif terhadap sektor ini berisiko memengaruhi banyak perusahaan asing yang setiap tahunnya mengirim miliaran dolar nilai cip ke AS. Produsen cip canggih seperti Taiwan Semiconductor Manufacturing Co dan SK Hynix dari Korea Selatan bisa dipaksa menaikkan harga atau menerima margin keuntungan yang lebih kecil jika Trump benar-benar memberlakukan tarif tersebut.
Langkah ini juga dapat meningkatkan biaya produksi domestik AS, terutama jika peralatan manufaktur cip dari perusahaan seperti ASML Holding NV dikenai tarif. ASML, yang berbasis di Belanda, adalah penyedia utama mesin litografi mutakhir untuk produksi cip canggih.
Sementara itu, penyelidikan terpisah terhadap produk farmasi akan mencakup semua jenis obat-obatan, baik generik maupun non-generik, serta bahan baku kritis untuk memproduksi obat. Publik diundang memberikan komentar atas dua penyelidikan tersebut dalam waktu 21 hari.
Jika tarif diberlakukan, dampaknya bisa merugikan raksasa farmasi global seperti Merck & Co. dan Eli Lilly & Co., yang hampir seluruh produksinya dilakukan di berbagai fasilitas di luar AS.
Sejumlah perusahaan farmasi berlomba mengumumkan investasi besar di AS menjelang kemungkinan pengenaan tarif. Salah satunya adalah Novartis AG dari Swiss yang mengumumkan rencana investasi senilai US$23 miliar di AS dalam lima tahun ke depan, mengikuti jejak Eli Lilly, Merck & Co, dan Johnson & Johnson.
Namun para analis memperingatkan bahwa langkah tersebut tak cukup untuk mengimbangi dampak tarif.
“Menurut kami, tak ada solusi cepat bagi perusahaan-perusahaan yang terdampak,” kata analis Leerink Partners, David Risinger, dalam catatannya kepada klien. “Memindahkan kembali fasilitas produksi ke AS akan memakan waktu bertahun-tahun dan biaya yang besar.”
Perusahaan farmasi pun dihadapkan pada dua pilihan: menanggung sendiri biaya tambahan akibat tarif atau menaikkan harga jual obat di pasar AS yang sudah dikenal sebagai salah satu pasar obat termahal di dunia.
“Secara politis, ini berisiko tinggi bagi produsen obat bermerek jika mereka menaikkan harga,” kata Marta Wosińska, peneliti senior di Brookings Institution Center on Health Policy. “Saya kira mereka akan enggan meneruskan biaya tambahan itu ke konsumen.”
Karena ada kontrol harga tertentu terhadap obat-obatan, tarif bisa menekan laba produsen dan membuat mereka memangkas anggaran riset, menurut CEO Eli Lilly, Dave Ricks.
“Kami harus menanggung biaya tarif dan membuat pengorbanan di dalam perusahaan,” kata Ricks kepada BBC. “Biasanya itu berarti pengurangan staf atau pengurangan dana untuk penelitian dan pengembangan (R&D), dan saya perkirakan R&D akan jadi yang pertama dikorbankan. Itu sangat mengecewakan.”
Trump, yang telah lama mengkritik ketergantungan industri farmasi AS pada produksi luar negeri, kini mengambil langkah yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Selama ini, obat-obatan kerap dikecualikan dari perang dagang karena alasan kemanusiaan.
Dampak Global
Kebijakan Trump terhadap cip mirip dengan pendekatannya terhadap sektor lain, seperti baja, aluminium, dan otomotif yang sudah dikenakan tarif 25%. Saat ini, penyelidikan perdagangan terhadap tembaga juga tengah berlangsung dan diperkirakan akan menghasilkan tarif baru.
Di bawah pemerintahan sebelumnya, Presiden Joe Biden telah menggandakan tarif atas cip generasi lama dari China menjadi 50%, dan meluncurkan penyelidikan terhadap dominasi China di sektor itu. Meski tak secanggih cip untuk AI, teknologi lama ini tetap digunakan secara luas di sektor otomotif, penerbangan, perangkat medis, dan telekomunikasi.
Trump menjadikan revitalisasi industri cip dan basis industri AS sebagai misi utama demi menjaga keamanan nasional. Ia juga menempatkan kemenangan dalam persaingan industri AI global sebagai prioritas. Meski begitu, para analis menilai membangun kembali industri cip di AS akan membutuhkan waktu dan usaha bertahun-tahun.
Pengenaan tarif terhadap obat-obatan juga akan sangat memengaruhi Irlandia, negara dengan surplus perdagangan senilai US$54 miliar dengan AS, yang sebagian besar berasal dari sektor farmasi. Negara itu dikenal dengan kebijakan pajak yang menguntungkan dan tenaga kerja terdidik. Perusahaan AS seperti Lilly dan Pfizer memiliki hampir dua lusin pabrik di Irlandia yang mengekspor ke AS, menurut analisis TD Cowen.
Industri bioteknologi AS, yang mendorong inovasi dalam pengembangan obat, juga rentan terhadap tarif ini. Survei dari Biotechnology Innovation Organization menunjukkan bahwa hampir 90% perusahaan biotek AS mengandalkan komponen impor untuk produk yang disetujui di AS. Ini berarti pasokan obat untuk pasien di AS akan sangat terdampak jika tarif diberlakukan terhadap Uni Eropa, China, dan Kanada.
Hampir seluruh perusahaan dalam survei tersebut memperkirakan biaya produksi akan melonjak jika tarif diterapkan terhadap UE. Separuh dari 42 perusahaan mengatakan mereka harus mencari mitra penelitian dan produksi baru atau menyesuaikan dan bahkan menunda pengajuan produk baru ke regulator.
“Memindahkan kembali rantai pasok biotek penting ke AS dan memperkuat basis manufaktur dalam negeri harus menjadi prioritas tinggi demi keamanan nasional dan ekonomi,” kata Presiden BIO, John Crowley. “Tapi ini akan memakan waktu bertahun-tahun. Kita harus berhati-hati dengan konsekuensi negatif dari tarif yang diusulkan ini.”
Pengecualian Sementara
Trump juga menyatakan bahwa ia mempertimbangkan pengecualian sementara terhadap tarif 25% untuk impor otomotif guna memberi waktu kepada perusahaan untuk memindahkan produksinya ke AS.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa Trump bersedia bernegosiasi dengan para pemimpin industri, dan dorongan serupa dari sektor teknologi maupun farmasi diperkirakan akan segera menyusul.
“Dia ingin proses relokasi ini terjadi secepat dan setertib mungkin,” kata penasihat ekonomi Trump, Kevin Hassett, kepada Fox Business pada Senin. “Jadi, ketika dia berbicara dengan para CEO dan mereka mengatakan, ‘Saya butuh sedikit lebih banyak waktu untuk ini,’ maka dia akan bersedia mendengarkan.”
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dalam wawancaranya dengan Bloomberg TV, menyatakan bahwa pemerintah tetap fokus pada negosiasi yang akan menguntungkan warga Amerika.
“Saya kira kami akan memulai negosiasi, dan seperti biasa, saya bilang: tunjukkan kemampuan terbaik kalian. Kita lihat saja hasilnya,” ujar Bessent.
Ketika ditanya mengenai pengecualian tarif otomotif yang bersifat sementara, Trump tak menyebutkan berapa lama keringanan itu akan berlaku.
(bbn)






























