Logo Bloomberg Technoz

“Tadi kan sudah sekian persen, OLNG 40%, SURF 80%, gas export pipelines 80% tahun ini, jadi kita percepat,” kata Djoksis. 

Selain itu, Djoksis menambahkan, lembagannya turut mengejar kepastian komersialisasi gas Blok Masela dari sejumlah pembeli domestik.

Beberapa pembeli domestik itu di antaranya PT Pupuk Indonesia (Persero), PT Pertamina Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) atau PGN, dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN. 

Rencanannya, perjanjian awal jual beli gas atau head of agreement (HoA) bakal diteken saat pergelaran Indonesian Petroleum Association bulan depan. 

Hanya saja, Djoksis belum dapat memastikan jumlah kargo yang bakal berakhir sampai perjanjian jual beli gas atau PJBG nanti. 

“Nanti kita lihat, lagi negosiasi jumlah totalnya, produksi totalnya kan 1.200 MMscfd, paling tidak lebih kurang 200 MMscfd sudah bisa untuk domestik sementara ini,” kata dia. 

Paling tidak lebih kurang 200 MMscfd sudah bisa untuk domestik sementara ini

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto

Rencana Inpex

Akan tetapi, berbeda dengan agenda pemerintah, Inpex dalam sebuah konferensi pers di Tokyo Kamis awal Februari 2025 justru mengumumkan FID untuk Blok Masela ditargetkan rampung pada 2027 dengan rencana produksi tetap dimulai pada awal 2030.

Presiden/CEO Inpex Co Takayuki Ueda memaparkan target tersebut sebagai bagian dari rencana bisnis perusahaan untuk tiga tahun mendatang.

Dia menyebut Inpex berencana menanamkan modal US$11,7 miliar di berbagai wilayah, termasuk proyek andalannya Ichthys LNG di Australia.

Ueda melihat potensi besar dalam pengembangan bisnis LNG yang dapat mendukung transisi energi.  

"Gas alam dan LNG memiliki intensitas emisi gas rumah kaca yang relatif rendah dibandingkan dengan bahan bakar fosil lainnya dan akan memainkan peran yang makin penting sebagai bahan bakar praktis dalam transisi energi," ujar Ueda di sela konferensi pers tersebut, dikutip melalui Reuters.

Ueda menyebut, sebagai pemegang hak partisipasi atau participating interest (PI) terbesar di proyek Lapangan Abadi, Inpex berencana untuk memulai desain rekayasa atau front end engineering design (FEED) awal tahun ini.

Lapangan Abadi diestimasikan memiliki puncak produksi sebesar 9,5 juta ton LNG per tahun (MTPA) dan gas pipa 150 MMSCFD, serta 35.000 barel kondensat per hari (BCPD).

Saat ini, pemegang hak partisipasi di Blok Masela adalah Inpex Masela Limited dengan porsi 65%. Tadinya, sisa 35% hak partisipasi di blok tersebut dikendalikan oleh Shell Upstream Overseas Services Ltd.

Per Juli 2023, sebanyak 35% hak Partisipasi Shell dilego ke PT Pertamina Hulu Energi Masela dan Petrolian Nasional (Petronas) Masela Berhad dengan pembagian porsi masing-masing sebesar 20% dan 15%.

(naw/wdh)

No more pages