Logo Bloomberg Technoz

Terpantau beberapa tenor SUN rupiah turun imbal hasilnya, yaitu tenor 15Y terpangkas 3,6 bps, disusul oleh tenor 20Y yang juga turun 1,2 bps jadi 7,132%.

Lonjakan tingkat imbal hasil surat utang yang diterbitkan oleh Pemerintah RI itu, tidak bisa dilepaskan dari sentimen pasar global yang makin memburuk jelang makin dekatnya tenggat waktu pemberlakuan tarif resiprokal Presiden Donald Trump pada 9 April waktu Amerika Serikat.

Ketegangan pasar yang juga tengah menanti rilis data inflasi CPI Amerika pada Kamis nanti, mendorong sikap defensif pemodal yang semula banyak memburu US Treasury, surat utang AS, sebagai safe haven.

Kini, situasi berbalik dan investor ramai-ramai melepas Treasury hingga yield-nya naik tajam. Imbal hasil UST-10Y naik 24,3 bps kini menyentuh 4,427%. Disusul oleh tenor 20Y dan 30Y yang masing-masing naik hingga 30 bps.

"Ini bukan hanya tentang tarif atau mata uang. Ini tentang aliran modal, geopolitik dan keberlanjutan fiskal yang bertabrakan secara langsung. Tiga hal langkah ini menandakan krisis kepercayaan yang lebih dalam. Obligasi pemerintah yang tadinya merupakan tempat berlindung paling aman di dunia, kini berada di bawah tekanan karena kekhawatiran fiskal AS dan risiko dumping asing sebagai balasan atas tarif," kata Charu Chanana, Chief Investment Strategist di Saxo Market, dilansir dari Bloomberg News.

Lonjakan yield UST mempersempit selisih imbal hasil dengan SUN menjadi tinggal 270 bps saat ini. Padahal baru beberapa hari sebelumnya, spread melebar jadi 306 bps.

Bukan hanya surat utang RI saja yang dilepas oleh para pemodal. Surat utang pemerintah negara lain juga diobral ramai-ramai oleh para investor.

Obligasi Pemerintah Jepang, JGB, misalnya, tenor 10Y naik 10 bps imbal hasilnya. Bahkan tenor 40Y-JGB sudah naik hingga 32 bps ke level tertinggi sejak pertama kali diterbitkan di pasar.

Yield surat utang pemerintah di Korea Selatan, Malaysia, India, Singapura, juga Filipina serta Australia juga mengalami nasib yang sama. 

"Ini merupakan obral besar-besaran obligasi pemerintah. Seperti memahat es di tengah kebakaran hutan, apapun yang tampak bagus dalam sedetik kini langsung hilang," kata Calvin Yeoh, Fund Manager di Blue Edge Advisors yang berbasis di Singapura.

Rupiah terlemah sepanjang sejarah

Tekanan harga surat utang, berlangsung ketika rupiah juga mengalami tekanan besar.

Mengacu data Bloomberg, rupiah spot menyentuh level Rp16.957/US$ pada pukul 10:36 WIB, melemah 0,54% dibanding posisi sebelumnya dan menempatkannya di level terlemah dalam sejarah yang tercatat sejauh ini, melampaui level terlemah era krisis moneter tahun 1998 silam.

Sementara di pasar offshore, rupiah NonDeliverable Forward siang ini juga masih bergerak lemah di Rp17.031/US$ pada pukul 11:09 WIB, sedikit terangkat setelah sempat menyentuh Rp17.131/US$ dalam intraday trading pagi tadi.

Tekanan dan volatilitas pasar diperkirakan masih akan berlanjut. "Kami meragukan negara-negara di Asia bisa memperoleh kesepakatan cepat dengan Trump setelah pembicaraan awal terlihat tidak memberikan hasil. Pemerintahan Trump ini benar-benar percaya pada tarif," kata Alex Loo, Macro Strategist di TD Securities Singapura.

(rui)

No more pages