RSI di bawah 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bearish. Namun RSI emas masih belum jauh dari 50, sehingga boleh dibilang cenderung netral.
Sedangkan indikator Stochastic RSI ada di 5,14, Sudah cukup jauh di bawah 20, yang berarti sangat jenuh jual (oversold).
Oleh karena itu, harga emas memang berpeluang naik. Cermati pivot point di US$ 2.998/troy ons. Dari situ, harga emas berpotensi merangsek ke arah US$ 3.051/troy ons yang menjadi Moving Average (MA) 5.
Adapun target support terdekat adalah US$ 2.972/troy ons. Penembusan di titik ini berisiko melongsorkan harga emas ke arah US$ 2.919/troy ons sebagai target paling pesimistis.
Sentimen Penggerak Harga Emas
Perkembangan di Amerika Serikat (AS) masih menjadi sentimen utama penggerak harga emas dunia. Investor terus dibuat cemas oleh kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump yang agresif.
Pekan lalu, Trump mengesahkan aturan tarif bea masuk resiprokal. Artinya, semakin besar surplus perdagangan suatu negara terhadap AS, maka tarif bea masuk akan makin besar.
China adalah salah satu negara yang terkena bea masuk resiprokal tersebut, selain sekitar 60 negara lainnya. Beijing pun tidak tinggal diam dan membalas dengan memberlakukan pungutan 34% terhadap produk impor asal Negeri Paman Sam.
Perkembangan ini membuat situasi memanas. Trump menegaskan pihaknya akan menambah tarif bea masuk kepada produk China .
“Jika China tidak menarik pungutan 34% sampai 8 April 2025, maka AS akan menjatuhkan tarif tambahan sebesar 50%, efektif berlaku 9 April,” tegas Trump dalam cuitan di media sosial.
Situasi yang kian pelik ini membuat pasar keuangan dunia bergejolak. Pasar saham ‘kebakaran’, termasuk di Indonesia di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sampai mengalami penghentian perdagangan sementara alias trading halt.
Biasanya emas selaku safe haven asset diuntungkan dalam kondisi semacam ini. Namun situasi begitu ekstrem, sehingga investor perlu menjual emas untuk menutup kerugian di tempat lain, seperti di pasar saham.
“Ini adalah risiko yang paling menonjol,”ujar Daniel Ghaly, Senior Commodity Strategist, seperti dikutip dari Bloomberg News.
(aji)



























