Tarif dasar akan mulai berlaku pada Sabtu (05/04/2025) tengah malam, sementara tarif lebih tinggi akan diterapkan mulai 9 April pukul 00.01 waktu setempat, menurut pejabat senior pemerintahan yang membahas rincian ini secara anonim sebelum pengumuman resmi Trump.
Sementara itu, Kanada dan Meksiko sudah menghadapi tarif 25% yang terkait dengan perdagangan narkoba dan migrasi ilegal. Kedua negara ini tidak akan terkena kebijakan tarif baru selama tarif terpisah tersebut masih berlaku. Selain itu, barang-barang yang tercakup dalam perjanjian perdagangan USMCA yang dirundingkan Trump pada periode pertamanya tetap dikecualikan dari kebijakan ini.
Pengumuman Trump ini langsung mengguncang pasar keuangan. Indeks saham utama turun lebih dari 2%, setelah sebelumnya mengalami reli selama beberapa hari karena ekspektasi bahwa kebijakan perdagangan Trump akan lebih lunak.
Saham produsen otomotif pun terpukul, dengan Ford Motor Co, General Motors Co, Stellantis NV, dan Tesla Inc mengalami penurunan dalam perdagangan pasca penutupan di New York. Harga minyak sempat melemah setelah pengumuman tersebut, tetapi kemudian berbalik naik dalam perdagangan pasca-penyelesaian.
AS sangat bergantung pada impor bahan bakar dari Eropa untuk memenuhi kebutuhan di Pantai Timur, yang hanya memiliki sedikit kilang tersisa. Di sisi lain, AS juga mengekspor minyak mentah ke berbagai negara.
Mary Lovely, peneliti senior di Peterson Institute for International Economics, mengatakan bahwa tarif yang diumumkan Trump "jauh lebih buruk dari yang kami perkirakan." Menurutnya, masih belum jelas bagaimana kebijakan ini akan dijalankan, tetapi dampaknya bisa sangat besar dalam mengalihkan arus perdagangan global.
Berdasarkan dokumen Gedung Putih, tarif yang diberlakukan kepada beberapa negara antara lain:
- China: 54% (termasuk tarif 20% terkait perdagangan fentanil dan tambahan 34% dari skema resiprokal Trump).
- Uni Eropa: 20%.
- Vietnam: 46%.
- Jepang: 24%.
- Korea Selatan: 25%.
- India: 26%.
- Kamboja: 49%.
- Taiwan: 32%.
Dalam pidatonya yang berlangsung selama 48 menit, Trump bahkan menampilkan papan besar yang menunjukkan tarif masing-masing negara.
"Negara-negara Asia, khususnya, tampaknya menjadi sasaran utama," ujar Wendy Cutler dari Asia Society Policy Institute.
Langkah ini menandai eskalasi dramatis dalam perang dagang Trump, yang kemungkinan akan memicu aksi balasan dari mitra dagang AS. Kebijakan ini sejalan dengan janji Trump selama berbulan-bulan untuk menggunakan tarif sebagai alat dalam memperkuat dominasi AS, menyeimbangkan hubungan perdagangan, menghidupkan kembali industri manufaktur dalam negeri, dan memperoleh keuntungan geopolitik.
Namun, keputusan ini juga bertentangan dengan upaya selama puluhan tahun setelah Perang Dunia II untuk menurunkan hambatan perdagangan demi mencegah konflik bersenjata.
Meskipun demikian, tarif baru ini sebenarnya lebih ringan dibanding opsi lain yang sebelumnya dipertimbangkan oleh tim Trump, termasuk rencana untuk menerapkan tarif global sebesar 20%. Presiden dan para penasihatnya berdebat hingga beberapa jam sebelum pengumuman resmi tentang skema tarif mana yang akan dipilih.
Beberapa produk seperti baja, aluminium, dan otomotif yang sudah dikenai tarif oleh Trump tidak akan terkena tambahan tarif resiprokal. Selain itu, produk seperti tembaga, farmasi, semikonduktor, dan kayu yang masih dalam investigasi tarif di bawah Section 232 Trade Expansion Act juga dikecualikan. Logam mulia dan energi yang tidak tersedia di AS juga masuk dalam daftar pengecualian.
Jika tarif terhadap Kanada dan Meksiko dihentikan di masa depan, barang-barang yang memenuhi standar USMCA akan tetap mendapatkan perlakuan khusus, sementara barang yang tidak tercakup dalam perjanjian akan dikenakan tarif 12%.
"Ini bukan tarif resiprokal penuh. Ini hanya setengah resiprokal," kata Trump.
Setelah pengumuman bahwa Kanada dan Meksiko tidak akan dikenakan tarif tambahan, mata uang kedua negara langsung menguat terhadap dolar AS. Peso Meksiko naik 0,8%, sementara dolar Kanada naik 0,5%.
Trump juga menyatakan kesediaannya untuk menurunkan tarif jika negara lain bersedia menghapus hambatan perdagangan mereka terhadap ekspor AS. Ia menyerukan kepada para pemimpin dunia untuk "menghapus tarif kalian, turunkan hambatan perdagangan, dan jangan manipulasi mata uang kalian."
Sementara itu, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengimbau mitra dagang AS untuk tidak melakukan aksi balasan terhadap tarif baru ini.
"Saya tidak akan mencoba membalas," kata Bessent dalam wawancara dengan Bloomberg Television. "Selama tidak ada pembalasan, ini adalah batas atas dari tarif yang kami terapkan."
Trump menyatakan keadaan darurat nasional terkait defisit perdagangan AS, yang pada 2024 mencapai lebih dari US$918 miliar untuk barang dan jasa. Ini memungkinkan Trump menggunakan wewenang unilateral berdasarkan International Emergency Economic Powers Act untuk memberlakukan rangkaian tarif terbesar dalam beberapa dekade.
Pemerintah AS berupaya menghidupkan kembali industri manufaktur dalam negeri melalui kebijakan proteksionis ini serta mengumpulkan ratusan miliar dolar dari tarif baru untuk meningkatkan pendapatan negara.
Namun, langkah ini merupakan perjudian besar yang bisa meningkatkan harga barang impor di AS senilai triliunan dolar per tahun. Selain itu, kebijakan ini berpotensi memicu perang dagang global yang dapat mengganggu rantai pasokan, mendorong inflasi, memperkuat pesaing ekonomi AS, dan mendorong negara-negara lain untuk membentuk aliansi dagang yang mengecualikan AS.
Ini juga menjadi tantangan politik bagi Trump, karena dampak negatif tarif bisa terasa dalam waktu dekat, sementara manfaat ekonominya mungkin baru terlihat dalam jangka panjang.
"Angka awalnya jauh lebih besar dari yang kami duga," kata Veronica Clark, ekonom di Citigroup Inc. "Namun secara keseluruhan, kami tidak terlalu khawatir akan dampak inflasi yang luas karena permintaan sedang melemah."
(bbn)





























