Pandangan yang diungkap di forum tersebut, yang terkadang disebut "Davos-nya China," memberikan catatan optimis yang langka bagi Asia, di mana Trump siap mengeluarkan rentetan pungutan baru, paling cepat awal pekan depan.
China dan India termasuk di antara negara-negara dengan ekonomi paling rentan terhadap risiko dari janji Presiden AS mengenakan tarif resiprokal pada mitra-mitranya.
Sebaliknya, para ekonom lain memandang prospek pertumbuhan Asia lebih suram. Menurut laporan Januari dari AMRO, atau Kantor Riset Ekonomi Makro ASEAN+3, ekonomi kawasan ini akan tumbuh 4,2% pada tahun 2025, direvisi turun dari perkiraan sebelumnya sebagai antisipasi dampak dari pungutan perdagangan AS.
Trump akan mengumumkan rencana tarif dagang resiprokal secara universal pada 2 April—tanggal yang disebutnya sebagai "Hari Pembebasan." Batas waktu peninjauan AS terhadap kepatuhan perdagangan Beijing ialah 1 April.
Laporan Boao menilai tekanan inflasi di Asia mungkin akan memburuk pada tahun 2025, didorong oleh kenaikan upah, biaya logistik yang lebih tinggi, restrukturisasi rantai pasokan, dan depresiasi mata uang.
Laporan ini memperkirakan tingkat pengangguran secara keseluruhan untuk Asia sekitar 4,4% tahun ini, lebih rendah dari tingkat global yang hanya di bawah 5%.
"Dunia saat ini sedang mengalami perubahan besar," kata Zhang Jun, sekretaris jenderal forum tersebut, dalam konferensi pers peluncuran laporan tersebut. "Tantangan dan ketidakpastian menumpuk dan kekhawatiran pada masyarakat internasional meningkat dalam menghadapi berbagai gejolak di seluruh dunia."
(bbn)




























