Berdasarkan analisis prospek cuaca BMKG, dalam periode 16 - 18 Maret 2025, hujan lebat berpotensi terjadi di Sumatra Utara, Riau, Sumatra Selatan, Kep Bangka Belitung, dan Bengkulu. Selain itu, di Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
"Kemudian, di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, dan Papua," ujar Guswanto.
Kemudian, pada periode 19-23 Maret 2025, potensi hujan lebat akan terjadi di Riau, Bangka Belitung, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Selain itu, di Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
Dalam keterangan yang sama, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan puncak arus mudik Lebaran 2025 diprediksi terjadi pada H-3 atau 28 Maret 2025, dengan jumlah pergerakan masyarakat mencapai 12,1 juta orang jika kebijakan Work From Anywhere (WFA) diterapkan.
Maka itu, dia mengimbau pemudik untuk lebih waspada terhadap cuaca yang dapat mengganggu kelancaran perjalanan, terlebih dengan tingginya volume perjalanan saat periode mudik Lebaran.
"Masyarakat yang menggunakan transportasi udara dan laut perlu memperhatikan prakiraan cuaca di bandara dan pelabuhan tujuan. Cuaca buruk seperti hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi dapat menyebabkan keterlambatan atau pembatalan penerbangan dan perjalanan laut," ujar Dwi.
Dia juga mengimbau masyarakat untuk selalu memantau informasi cuaca terkini sebelum berangkat, terutama bagi mereka yang menggunakan kendaraan pribadi. Selain itu, pastikan kendaraan dalam kondisi prima, periksa tekanan ban, fungsi lampu, serta kesiapan peralatan darurat seperti ban cadangan dan alat komunikasi.
"Jika hujan lebat terjadi, sebaiknya menunda perjalanan dan mencari tempat berlindung yang aman. Jangan memaksakan perjalanan dalam kondisi cuaca buruk,” ujar Dwikorita.
(lav)




























