Seorang juru bicara Cogat, badan Israel yang mengoordinasikan urusan sipil Palestina, mengatakan bahwa pasokan listrik yang dihentikan adalah untuk jalur listrik khusus yang menyuplai pabrik desalinasi di Gaza, yang kini tidak lagi beroperasi.
Pabrik tersebut hanya menyumbang sebagian kecil dari kebutuhan air di Gaza, yang sebagian besar berasal dari sumur. Sementara itu, kebutuhan energi lainnya ditopang oleh generator darurat, setelah jalur listrik utama dari Israel terputus pada awal perang.
Hamas mengutuk keputusan Israel dalam pernyataan resmi mereka, menegaskan bahwa kelompok tersebut tidak akan menyerah pada tekanan seperti ini. "Satu-satunya cara adalah dengan mematuhi kesepakatan dan memulai negosiasi untuk fase kedua," kata Hamas, merujuk pada perjanjian gencatan senjata bertahap.
Israel menginginkan kesepakatan jangka panjang yang tidak hanya mengakhiri perang tetapi juga mengakhiri kekuasaan Hamas serta menghentikan suplai senjatanya. Sementara itu, Hamas menyatakan bersedia melepaskan kendali pemerintahan, tetapi tidak akan menyerahkan persenjataannya.
Pada Senin, Israel akan mengirim delegasi ke Qatar, yang bersama Mesir berperan sebagai mediator dalam perundingan Gaza. Sementara itu, Amerika Serikat turut mengawasi negosiasi ini dengan menjalin kontak terbatas dengan Hamas.
Utusan Gedung Putih yang terlibat dalam pembicaraan antara AS dan Hamas, Adam Boehler, mengatakan pada Minggu bahwa kesepakatan mungkin bisa tercapai dalam beberapa minggu ke depan.
"Saya yakin ada cukup celah untuk mencapai kesepakatan, antara apa yang diinginkan Hamas dan apa yang mereka setujui, serta apa yang diinginkan Israel dan apa yang telah mereka terima," katanya dalam acara State of the Union di CNN.
(bbn)
































