Tidak ada komentar dari militer Israel. Namun, pada Minggu (23/2/2025), Menteri Pertahanan Israel Katz memerintahkan pasukan untuk mempersiapkan "tinggal jangka panjang," mengatakan bahwa kamp-kamp tersebut telah dibersihkan "untuk tahun mendatang" dan penduduk tidak akan diizinkan untuk kembali.
Operasi selama sebulan di Tepi Barat utara menjadi salah satu operasi terbesar yang pernah terjadi sejak Intifada Kedua oleh warga Palestina lebih dari 20 tahun lalu, yang melibatkan sejumlah brigade tentara Israel yang didukung dengan pesawat nirawak, helikopter, dan, untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, tank-tank tempur berat.
"Ada evakuasi penduduk yang luas dan terus berlangsung, terutama di dua kamp pengungsian, Nur Shams, dekat Tulkarm dan Jenin," kata Michael Milshtein, mantan pejabat intelijen militer yang mengepalai Forum Studi Palestina di Moshe Dayan Center for Middle Eastern and African Studies.
"Saya tidak tahu apa strategi besarnya, tetapi tidak diragukan lagi bahwa kita tidak melihat langkah seperti itu di masa lalu."
Israel melancarkan operasi tersebut, mengatakan mereka akan menghadapi kelompok-kelompok yang didukung Iran, seperti Hamas dan Jihad Islam, yang telah bercokol di kamp-kamp pengungsian selama beberapa dekade terakhir, meski Israel berulang kali berupaya membasmi mereka.
Namun, seiring berjalannya waktu, warga Palestina mengatakan tujuan sebenarnya ialah pemindahan penduduk dalam skala besar dan permanen, dengan menghancurkan rumah-rumah dan membuat mereka tidak mungkin untuk tinggal.
"Israel ingin menghapus kamp-kamp dan kenangan kamp-kamp tersebut, baik secara moral maupun finansial, mereka ingin menghapus nama pengungsi dari ingatan masyarakat," kata Hassan al-Katib, 85 tahun, yang tinggal di kamp Jenin bersama 20 anak dan cucunya sebelum meninggalkan rumah dan semua harta bendanya selama operasi Israel.
Israel telah berusaha melemahkan UNRWA, badan bantuan utama Palestina, dengan melarangnya dari keluar dari kantor pusatnya di Yerusalem Timur dan memerintah untuk menghentikan operasinya di Jenin.
"Kami tidak tahu apa tujuan negara Israel. Kami tahu ada banyak pengungsi yang keluar dari kamp-kamp tersebut," kata juru bicara UNRWA Juliette Touma, seraya menambahkan bahwa pengungsi memiliki status yang sama terlepas dari lokasi fisik mereka.
(ros)
































