“Dan dia berkata, ‘Oke. Melalui JV, kita [UEA] bisa bergabung dengan [berinvestasi untuk pembangkit EBT dengan kapasitas] 10 GW.' Pembangkit 10 GW itu nilainya setara dengan US$10 miliar,” tegas Luhut.
“Jadi bisa Anda bayangkan, ada begitu banyak peluang saat ini.”
Bukan Titipan
Untuk itu, Luhut menggarisbawahi persoalan transparansi dalam tata kelola Danantara akan menjadi ujung tombang kesuksesan konsep baru tersebut. Dia pun berjanji Danantara akan dikelola oleh tim profesional, dan bukan orang-orang “titipan” yang direkomendasikan oleh pihak-pihak tertentu.
“Itu tidak akan terjadi, karena ini dijalankan oleh perusahaan profesional dari luar. Jadi itulah mengapa kita berbicara tentang makanan sekolah, berbicara tentang Danantara, berbicara tentang teknologi pemerintah, berbicara juga tentang E-catalog. Kita akan membuat pendekatan yang sangat profesional di bidang apa pun,” tegasnya.
Luhut mengaku telah berdiskusi dengan Presiden Prabowo Subianto mengenai tata kelola Danantara. Dia tidak menampik pada tahap awal, mungkin masih akan ada rintangan yang tidak bisa diselesaikan dalam semalam.
“Akan tetapi, faktanya bahwa kita sudah merencanakan, bahwa kita sudah mempersiapkan, kita sudah di jalur yang benar. Jadi untuk semua, para investor dari Indonesia, jika Anda memiliki masalah, jangan ragu. Jika Anda memiliki masalah dengan lisensi di sana-sini, Anda dapat menghubungi kantor saya. Kita bisa mengatasinya, karena kita ingin bersikap transparan di negara ini.”
-- Dengan asistensi Dovana Hasiana
(wdh)




























