Boikot tersebut "tidak didasarkan pada apa pun yang akurat atau benar. Kami tidak pernah mendukung militer mana pun," kata Niccol saat kunjungan pertamanya ke Timur Tengah sejak menjadi CEO tahun lalu.
Niccol bergabung dengan Starbucks pada bulan September untuk menghidupkan kembali pertumbuhan rantai kopi tersebut. Penjualan telah tergerus oleh berbagai masalah, mulai dari boikot hingga waktu tunggu yang lama dan penurunan minat konsumen akibat kenaikan harga.
Awalnya, Niccol berfokus pada penyusunan rencana untuk bisnis di Amerika Utara, yang menyumbang sekitar 75% dari pendapatan. Ia mengatakan akan merestrukturisasi jajaran perusahaan untuk mengurangi kompleksitas, menghilangkan lapisan manajemen, dan memperjelas siapa yang bertanggung jawab atas pencapaian target. Perubahan tersebut kemungkinan akan mengakibatkan pemutusan hubungan kerja yang akan diumumkan paling lambat awal Maret.
Kini, ia beralih ke pasar internasional. Selain Timur Tengah, Niccol mengatakan Starbucks akan menambah beberapa ribu gerai lagi di China di masa depan, meskipun menghadapi kesulitan akibat pemulihan ekonomi negara yang tidak merata dan meningkatnya persaingan dari kompetitor dengan harga lebih rendah. Perusahaan sedang meninjau opsi untuk bisnis di China, termasuk kemungkinan menjual sebagian sahamnya, menurut laporan Bloomberg News. Niccol mengunjungi China pada bulan Januari untuk pertama kalinya sejak menjabat.
Saham perusahaan telah naik 24% tahun ini hingga penutupan pada hari Rabu. Saham tersebut mendapatkan dorongan setelah perusahaan mengatakan pada akhir Januari bahwa penurunan penjualan telah berkurang, menandakan bahwa inisiatif Niccol mulai menunjukkan hasil.
(bbn)































