Pada Jumat (1/3/2024), Deputi Kepala BPS Bidang Statistik Produksi M Habibullah mengumumkan terjadi inflasi 0,37% pada Februari dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Lebih tinggi dibandingkan Januari yang hanya sebesar 0,04% mtm. Sementara secara tahunan, inflasi Februari tercatat 2,75% year-on-year. Angka-angka itu lebih tinggi ketimbang prediksi pasar.
Konsensus yang dihimpun Bloomberg menghasilkan median proyeksi inflasi bulanan (month-to-month/mtm) sebesar 0,24%. Lebih tinggi dibandingkan Januari yang hanya sebesar 0,04%. Sementara inflasi tahunan (year-on-year/yoy) Februari diperkirakan ada di 2,6%. Sedikit lebih tinggi dibandingkan Januari yang sebesar 2,57%. Harga kebutuhan pokok ditengarai menjadi penyebab percepatan laju inflasi terutama beras.
Secara teknikal bila rupiah berhasil keluar dari tekanan dan berbalik menguat, level resistance yang menarik dicermati berada di Rp15.700/US$ dan resistance selanjutnya Rp15.670/US$.
Adapun dalam tren jangka menengah (Mid-term) rupiah masih ada potensi penguatan optimis ke level Rp15.600/US$ tepat di MA-50.
(rui)






















