Logo Bloomberg Technoz

Dalam 5 tahun, angkanya berlipat hampir empat kali untuk reksa dana indeks dan hampir dua kali lipat untuk ETF. Bahkan ETF sempat mencapai Rp 16,17 triliun pada 2020 walau kemudian menurun seperti yang terjadi pada semua jenis reksa dana.

Total dana kelolaan Reksa Dana Indeks dan ETF 2017-2023 (OJK)

Vice President and Head of Product, Research and Consulting Services Infovesta Utama Edbert Suryajaya, menilai, masih relatif kecilnya minat terhadap reksa dana indeks dan ETF di pasar keuangan domestik semata karena kemunculannya sebagai pilihan instrumen investasi di pasar domestik terbilang terlambat. 

“Reksa dana saham dan reksa dana lainnya lebih dulu muncul sehingga publik jauh lebih familiar,” jelasnya.

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Dalam ranah instrumen mutual fund, ada dua kelompok yang membedakan karakteristik produk dilihat dari strategi pengelolaannya. Untuk reksa dana saham, reksa dana pendapatan tetap, reksa dana campuran dan reksa dana pasar uang, kesemuanya termasuk dalam kelompok reksa dana aktif (active fund). Disebut demikian karena dalam pengelolaannya, peran manajer investasi sangat besar dalam meracik isi portofolio supaya performa dari reksa dana tersebut bisa optimal. 

Misalnya, reksa dana saham di mana 90% dana di dalam kontrak kolektif tersebut bisa ditempatkan di saham dan 10% berupa aset kas. Isi sahamnya bisa bermacam-macam tergantung garis besar strategi manajer investasi yang dibeberkan dalam prospektus dan fund fact sheet. Dengan peran aktif manajer investasi, instrumen active fund ini diharapkan bisa lebih bagus.

Nilai Aktiva Bersih (NAB) industri reksa dana per 31 Januari 2023 (Source: OJK)

Di kelompok lain adalah reksa dana pasif atau biasa disebut juga sebagai passive fund. Sesuai namanya, reksa dana pasif tidak menempatkan manajer investasi sebagai penentu utama performa dana. Manajer investasi tetap berperan besar akan tetapi pengelolaan dana mengacu pada underlying yang bisa dilihat lebih transparan oleh investor. 

“Reksa dana indeks dikelola untuk mendapatkan hasil investasi yang mirip dengan suatu indeks yang menjadi acuan, apakah itu indeks saham maupun indeks obligasi. Produk ini ditujukan pada investor yang menginginkan transparansi atas investasinya,” jelas OJK.

Sebagai contoh, reksa dana indeks yang dirilis oleh Sinarmas Asset Management yaitu Indeks Simas Sri-Kehati yang mencetak return 10,84%. Yang menjadi acuan adalah kinerja Indeks SRI-KEHATI, sebuah indeks harga saham kerja sama Bursa Efek Indonesia dan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI). Jadi, pengelolaan dananya mengacu pada indeks tersebut di mana 80%-100% dana dapat ditempatkan di ekuitas yang tercatat di indeks yang menjadi acuan.

Sedangkan ETF, karakteristiknya berbeda lagi. Walau pada dasarnya ETF adalah reksa dana, tapi produk investasi itu diperdagangkan seperti saham-saham yang ada di bursa. ETF menjadi penggabungan antara unsur reksa dana dalam hal pengelolaan dana tapi menerapkan mekanisme saham dalam hal transaksi jual belinya. Singkatnya, ETF merupakan reksa dana berbentuk kontrak investasi kolektif yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa efek.

Risiko ETF bisa dikontrol lebih rendah karena transaksi jual beli ETF dapat dilakukan setiap saat selama jam perdagangan bursa berlangsung. Berbeda dengan reksa dana di mana risiko investasi ada pada manajer investasi dari pengelolaan portofolio. Investor juga bisa setiap saat melihat pergerakan kinerja ETF, berbeda dengan reksa dana biasa yang biasanya di akhir hari.

Cara investasi di dua produk ini juga tidak sulit. Untuk reksa dana indeks, investor bisa memulai investasi seperti berinvestasi di reksa dana umumnya yaitu, melalui manajer investasi. Sebaliknya memulai investasi ETF bisa dilakukan melalui broker atau pialang saham seperti ketika seseorang berinvestasi di saham.

Jadi Incaran Investor Global

Bila di Indonesia, dua produk itu masih belum terlalu familiar, tidak demikian halnya di luar negeri. Reksa dana indeks dan ETF menjadi salah satu instrumen investasi yang memiliki banyak peminat dari tahun ke tahun. 

Membiakkan uang di instrumen pasif seperti ETF dan reksa dana indeks dinilai lebih menjanjikan menyusul tingginya ketidakpastian global (Bloomberg)

Terakhir, berdasarkan hasil survei MLIV Pulse, hampir separuh atau 46% investor ritel global yang menjadi responden survei memilih ETF dan reksa dana indeks sebagai pilihan instrumen investasi tahun ini, selanjutnya sebesar 38% memilih aset internasional di pasar-pasar luar negeri dan sebesar 22% masih menimbang investasi di reksa dana yang dikelola secara aktif oleh manajer investasi.

Investor profesional di pasar global juga banyak yang mengincar reksa dana indeks dan ETF sebagai pilihan membiakkan dana tahun ini, terepresentasi dari 37% jawaban responden dalam survei yang sama.

Di tengah masih sangat tingginya volatilitas pasar keuangan global, para investor lebih memilih cara aman menempatkan dana di instrumen berisiko relatif rendah dan transparan. Sebagai informasi, saat ini di pasar domestik sudah ada 51 produk ETF dan reksa dana indeks yang bisa jadi pilihan para investor. 

Tujuan Keuangan

Investor bisa memilih reksa dana indeks atau ETF sesuai tujuan keuangan. Edbert menjelaskan, pada dasarnya pemilihan terhadap dua jenis instrumen investasi itu tidak berbeda dengan pertimbangan ketika memilih instrumen investasi lain. 

Untuk reksa dana indeks yang memakai indeks saham sebagai acuan, maka itu akan lebih tepat bila digunakan untuk mendukung tujuan keuangan jangka panjang di atas 5 tahun menilik tingkat risikonya yang tinggi, sama halnya risiko saham.

Sebaliknya, bila yang menjadi acuan adalah indeks obligasi, maka investor bisa memanfaatkannya untuk mendukung tujuan keuangan jangka menengah atau bahkan pendek, tergantung isi indeks obligasinya. Bila indeks obligasi yang menjadi acuan adalah obligasi jangka pendek, maka tujuan keuangan jangka pendek di bawah 3 tahun masih tepat. 

Bagaimana dengan ETF?

Instrumen investasi ini cocok bagi investor pemula yang ingin "pemanasan" sebelum masuk berinvestasi langsung di saham. Untuk ETF yang dikelola secara aktif, investor bisa secara aktif pula memutuskan masuk atau keluar sesuai dengan sentimen yang tengah berlangsung di pasar. ETF ini cocok bagi investor yang mencari keuntungan dari pergerakan pasar jangka pendek. 

Dari sisi kinerja, sejauh ini reksa dana indeks dan ETF cukup menjanjikan. Produk ETF, beberapa di antaranya mampu mencetak return di atas 10% setahun terakhir. Mengutip data Infovesta Utama, sebagai contoh, Batavia Sri Kehati ETF mencatat return 10,98%, lalu KISI IDX Value 30 ETF juga tumbuh 11,64% setahun ini dan mencapai 32,03% dalam tiga tahun terakhir. Ada pula Premier ETF IDX High Dividend 20 yang return tumbuh 15,28% dalam setahun dan mencapai 33,84% tiga tahun ini.

Reksa dana indeks tak kalah. Seperti Indeks Simas Sri-Kehati yang mencetak return 10,84% atau UOBAM Indeks Bisnis 27 yang mencetak 8,29%, mengutip data Infovesta. Menurut Edbert, ketika di pasar masih banyak ketidakpastian seperti saat ini, pilihan menempatkan dana di passive fund menjadi pilihan rasional. "Daripada over atau underweight di saham atau sektor tertentu, lebih baik ikut [masuk] di [reksa dana] indeks," kata dia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terbenam di level 6.784,8 pada pukul 11:29, Selasa (7/3/2023) mencatat aksi jual investor asing selama dua hari berturut-turut sejak pekan lalu. 

(rui/aji)

No more pages