"Kami memperkirakan faktor-faktor tersebut akan terus menunjang kinerja Grup pada kuartal keempat," ujar Rudy dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (29/10/2026).
Laba segmen bisnis solusi pertambangan dan alat berat ASII memang menjadi satu-satunya yang mengalami koreksi dibanding segmen bisnis yang lain.
Pada segmen tersebut, ASII mencatat penurunan 26% secara tahunan menjadi Rp5,07 triliun.
Untuk segmen otomotif, ASII masih mencatat kenaikan laba bersih 8% secara tahunan menjadi Rp9,79 triliun. Sedang laba bersih dari segmen jasa keuangan naik 6% secara tahunan menjadi Rp7,15 triliun.
Adapun segmen lainnya mengalami kenaikan 36% secara tahunan menjadi Rp2,56 triliun.
Terkait pengalokasian modal, kami tetap disiplin dalam menjalankannya," kata Rudy.
Sejak November 2025 hingga September 2026, ASII telah menyelesaikan program share buyback dengan total nilai Rp10,0 triliun.
Selain program share buyback Astra sebesar Rp8 triliun yang masih berlangsung, PT United Tractors Tbk (UNTR) dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) juga mengumumkan program share buyback yang baru pada Oktober 2026.
Inisiatif alokasi modal Grup juga mencakup penawaran tender sukarela oleh ASII untuk menambah kepemilikan sahamnya di PT Astra Otoparts Tbk (AUTO).
"Di tengah volatilitas pasar, kami tetap optimistis terhadap kekuatan Core Businesses Astra dan akan terus meningkatkan efisiensi operasional, menjaga posisi neraca yang kuat, serta mengejar peluang pertumbuhan secara selektif. Astra akan terus mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia sekaligus menciptakan nilai bagi para pemegang saham dan pemangku kepentingan.”
(red)






























